"Barang siapa yang keluar rumah untuk belajar satu bab dari ilmu pengetahuan, maka ia telah berjalan fisabilillah sampai ia kembali kerumahnya."
Manusia tidak hanya diminta oleh Tuhan untuk membaca alam fisika, tetapi juga manusia dan hubungan sosialnya, bahkan juga tentang penciptanya. Begitu pula dengan ilmu-ilmu ekonomi,hukum,budaya,juga politik, Adapun diminta senantiasa untuk berfikir setelah membaca suatu hal. Dan setelah membaca, maka anda diminta untuk merenung kembali serta menyadari bahwa semua itu adalah bagian dari sebuah ketetapan Tuhan, bukan terpisah sebagai ilmu pengetahuan saja, semata-mata kemajuan teknologi, atau material saja. Jika manusia tak mampu untuk memberdayakan kemampuan nalar ( reasoning power ) dalam dirinya, maka manusia dalam keadaan "terputus" ( dari mata rantai kehidupan ) dan menjadi kehilangan arah. Banyak kalangan ilmuwan yang begitu mempertuhankan ilmu tanpa menyadari realitas ilmu sendiri nyata-nyata adalah ketetapan atau hukum yang datang dari sang Pencipta. Dengan kemampuan nalar pulalah,seseorang dapat mencerna unsur-unsur penting yang ada alam ini sebagai satu kesatuan sunatullah.
Anda harus memiliki prinsip kuat sebagai pegangan dan landasan pertama sebelum"membaca"realitas alam di hadapan Anda. Ayat yang berbunyi: " Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan" diletakkan oleh Allah SWT, pada urutan pertama surat Al 'Alaq atau yang lebih dikenal dengan iqra'. Inilah pegangan yang harus digenggam kuat-kuat, sebelum "membaca", artinya bahwa segala sesuatu atau kebenaran seluruhnya adalah milik Allah. Ingatlah, bahwa sesuatu bacaan akan menimbulkan pengaruh yang sangat kuat pada diri Anda. Allah selalu mengajak Anda untuk berfikir, melatih fungsi otak dan hati Anda.