| Belajar Mengemudi Mobil......... | å ¬éç¯å²ï¼everyone |
Akhir-akhir ini didaerah tempat tinggalku sering kujumpai mobil-mobil dengan “L” plate berseliweran, terutama pada saat week-end. “L” plate yang kumaksud disini adalah mobil yang dioperasikan oleh sekolah mengemudi untuk para murid sekolah tersebut. Si murid duduk dibelakang kemudi dengan sang guru duduk disampingnya sambil memberikan petunjuk-petunjuk.Setelah murid dianggap mampu mengendarai mobil dengan baik, sang murid bisa mendaftar untuk ujian teori dikantor lalu lintas terdekat (namanya RTA). Jika ujian teori berhasil, maka tahap berikutnya adalah praktek jalanan. Setelah praktek jalanan OK, si murid akan mendapatkan SIM.
SIM di Aussie digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu SIM jenis L, artinya untuk mereka yang benar-benar baru mengemudi untuk petama kali. Pemegang SIM L, harus selalu didampingi oleh seseorang yang mempunyai SIM penuh jika mengemudikan kendaraan. Mobil si SIM L, harus ditempel sticker gede dengan tulisan “L” sehingga pengguna jalan mengetahui status si pengemudi. Setelah setahun tanpa dosa aka tidak melanggar peraturan lalin, SIM jenis L, bisa di-upgrade menjadi P alias Provisional (masa percobaan setahun juga) dan sticker L harus diganti dengan sticker “P”. Pemegang SIM P boleh mengemudikan mobil sendiri. Jika ini mulus tanpa dosa juga, maka barulah kita mendapatkan SIM penuh dan mobil pun bebas sticker. Selama masih dalam status L atau P, si pengemudi hanya diperbolehkan mengemudikan mobil dalam batasan kecepatan tertentu.
Sistim ini sangat kontras dengan cara perolehan SIM di tanah air. Aku masih ingat ketika aku belajar menyetir mobil dengan sekolah mengemudi di Jakarta, di jalan Gajah Mada di daerah kota (aku lupa namanya), kita belajarnya rombongan. Jadi dengan satu mobil butut, satu guru, tiga murid, berjubel, mefet-mefet di mobil butut sekolah tersebut. Tentunya bisa temans bayangkan situasi didalam mobil yang gerah, mobil jalannya ndut-ndutan karena si murid belum bisa mem-balance antara kopling dan gas dan gurunya yang sering teriak-teriak panik kalau ada muridnya yang sok pinter tiba-tiba tancap gas lalu lupa ngerem dan bis sudah tepat diujung hidung. Heboh deh..!!!
Waktu itu setiap murid diberi jatah ½ jam oleh sang guru. Jadi masing-masing murid harus menanggung sengsara selama 1 jam didalam mobil belajar tersebut. Kita dibawa belajar disekitar lapangan Monas karena sepi sehingga menurut sang guru, kita bisa praktek parkir, maju mundur, muter dll.
Setelah belajar 12x @ 1/2 jam, sang guru menganggap kita sudah pinter dan kita langsung diikutin ujian teori dan praktek di Komdak. Padahal sang guru sih sebenarnya mau cepat2 ganti murid supaya cash flow mengalir lebih cepat.
Selama ujian teori, pak polisi yang jaga, kasih tahu jawabannya ke peserta ujian (multiple choice). Doi mau cepat juga supaya fulus cepat masuk lagi. Ujian praktek sama juga. Giliran naik tanjakan, pak polisi sudah berdiri diujung tanjakan dan stand-by disebelah mobil kita, rem tangan kita tarik dan mobil berhenti. Kemudian pak polisi me-release rem tangannya dan mobil pun meluncur dengan mulus. No problem. Sore itu juga aku mendapatkan SIM penuh, tanpa masa2 percobaan seperti di Aussie.
Malam sesudah mendapat SIM, aku langsung pergi dengan adikku ke daerah Tanah Sereal (dibelakang Gajah Mada Plaza) yang jalannya sempit dan banyak mobil parkir dikiri-kanan jalan. Belum lagi ojek, becak dan bajaj yang berseliweran bagaikan tawon.
Tiba-tiba aku mendengar bunyi sssreetttt…….yang agak keras. Adikku langsung teriak: “Mobil parkir dipinggir jalan kok kamu serempet!” Aku jawab: “Hah…..masa sih, kok aku nggak liat….?”(Lha, gimana mau kelihatan, wong kaca spion kiri mobil aku lipat krn aku pikir nanti takut nyerempet). Mobilku terus berlalu tanpa berhenti.
Tidak lama kemudian aku mulai memasuki arus kemacetan di gang kecil tersebut dan mobilku berhenti tepat ditengah-tengah tanjakan. Dengan pede, rem tangan kutarik dan mobilku berhenti dengan sempurna. Ketika kendaraan didepanku mulai bergerak, akupun me-release rem tangan, tetapi mobilku kok mundur…..???? Coba lagi, mundurrr….durr….durr…..lagi.......Oi......oi.......mana nih pak polisi yang pegangin rem tanganku di Komdak dulu? Tolongin nih hambamu yg nggak bisa mem-balancing kopling, gas dan rem tangan…….Tuuut....tuuut.....tuuuutttt.......klakson mobil dibelakangku mulai teriak2 dan para tukang becak dan ojek pada kasih comment: “sopirnya baru…sopirnya baru nih…..”. Wah, ketahuan SIM boleh beli.........
Para abang becak berlarian menahan mobilku supaya nggak tambah mundur dan ditengah-tengah kepanikanku, sambil memegang rem tangan, aku injak pedal gas sekencang-kencangnya dan…..zoommm……mobilku meloncat bak kangguru jantan ngeliat kangguru betina............
Temans, sejak malam yang penuh kenangan tersebut, aku masih mengalami beberapa peristiwa cium mencium dengan mobil ditempat perparkiran. Urusan cium2an dgn mobil lain ini umumnya terjadi pada saat aku mau parkir mundur, atau mau keluar dari tempat parkir, parkir parallel dll. Lha.... waktu belajarnya di Monas yang sepi, jadi gampang banget dan tidak ada kesempatan untuk cium-ciuman dengan mobil lain.
Alhasil, ketika akhirnya aku menjual mobil pertamaku tersebut (jenis gerobak Daihatsu HiJet - lihat foto), mobil tersebut dalam keadaan ompong alias bemper depan dan belakang sudah rontok….(dalam foto diatas, mobilku masih belum ompong, hanya baret-baret kiri kanan hasil cium-ciuman dengan mobil-mobil ditempat parkir).
Yah itulah secuil pengalaman akibat belajar mengemudi mobil secara express. Untunglah, aku sekarang telah menjadi seorang pengemudi yang bisa diandalkan yang telah belajar dari kesalahan-kesalahan awal. Aku sarankan jika teman hendak belajar mengemudi, sebaiknya belajarlah pada sekolah mengemudi yang bereputasi baik, jangan seperti sekolahku yang model borongan itu. Hehehehe………..
0 件のコメント:
コメントを投稿