ラベル 055 の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示
ラベル 055 の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示

2011年11月16日水曜日

Kesombongan Datang Mendahului Kejatuhan

Kesombongan Datang Mendahului Kejatuhan
| Erlangga Djumena | Senin, 14 November 2011 | 08:19 WIB
Dibaca: 11241
|
Share:
shutterstock Ilustrasi
KOMPAS.com — Ungkapan ini kerap digunakan para usahawan generasi pertama Indonesia. Bagi mereka, terutama yang merintis usaha dari titik nol, kesombongan itu sungguh celaka. "Engkau ingin berbisnis tetapi sombong? Ha-ha-ha-ha, sudah, pulang tidur saja, engkau tidak berbakat bisnis," ucap usahawan besar Eka Tjipta Widjaja ketika masih berada di panggung bisnis internasional, beberapa waktu lalu.
Eka, pendiri sekaligus generasi pertama Grup Sinar Mas, menyadari betul bahwa seorang usahawan memang harus punya sikap, jujur, dan reputasi tinggi.Namun, hukum bisnis yang sangat keras adalah pengusaha dilarang sombong. Untuk memberi gambaran riil, ia menyatakan, sombong, apalagi sok tahu, hanya akan mencelakakan si pengusaha.
Eka menuturkan, ia pernah menemukan seorang usahawan "baru berkembang" mengajari seorang usahawan besar tentang strategi bisnis dan arah bisnis ke depan. "Saya diam saja, dan usahawan yang diajari itu juga diam saja. Maklum, ia sangat rendah hati. Namun, saya terkesima, mengapa anak muda itu memiliki perangai seperti itu. Saya bergegas pergi dan membatin, apa tidak salah ya, ada anak ayam hendak mengajari burung garuda terbang?"
Kepada anak dan cucunya, Eka suka menekankan peristiwa ini sebagai contoh, "Jangan coba-coba sombong kalau ingin menjadi pebisnis hebat." Sombong atau bangga yang berlebihan hanya akan menjauhkan usahawan dari rezeki. Pelanggan, konsumen, atau klien akan menjauh. Mereka akan mencari usahawan yang lebih enak diajak bekerja sama, lebih asyik dijadikan mitra bisnis.
Sinar Mas tidak main-main dengan impiannya menjadi perusahaan besar dunia. Dua produknya, minyak sawit mentah (CPO) dan bubur kertas (pulp and paper), masuk elite dunia. Hal yang menarik, raksasa bisnis ini tetap rendah hati. Mereka tahu bahwa para rival terus mengejar mereka, kalau perlu mendahului mereka. Oleh karena itu, perusahaan tersebut tidak pernah berhenti berkreasi.
Usahawan properti Trihatma Kusuma Haliman juga menekankan pentingnya rendah hati. "Hochmut kommt vor dem fall (kesombongan datang mendahului kejatuhan)," ujar Trihatma, pekan lalu. Ungkapan Jerman ini kerap diajarkan kepada anak-anak Jerman agar tidak berlebihan. Rendah hati tidak menyurutkan gengsi dan reputasi. Justru rendah hati membuat seorang usahawan dipandang amat tinggi oleh usahawan lain.
Urusan rendah hati ini "hanya" satu unsur kecil dari begitu banyak formula dalam berbisnis. Untuk menjadi pebisnis besar, seorang saudagar tidak hanya dituntut harus rajin, ulet tiada tara, sabar, atau reputasi, tetapi juga cerdas melihat peluang, visi bisnis yang jauh ke depan, kreasi, dan inovasi tiada henti.
Bill Gates ataupun Steve Jobs, sekadar menyebut contoh, dipandang amat tinggi karena selalu berlari jauh lebih cepat dibandingkan para kompetitornya. Mereka tidak sekadar satu langkah di depan kompetitor, tetapi dua sampai tiga langkah.
Banyak contoh lain tentang aspek ini. Samsung kini menjadi raksasa produk elektronik dunia, meninggalkan Sony. Adapun produk Korea lainnya, Hyundai, kini menjadi produsen mobil keempat besar di dunia. Bayangkan, tujuh tahun silam siapa yang memandang Hyundai? Namun, kini produk raksasa ini menyusup jauh ke pedalaman raksasa-raksasa ekonomi dunia. Suka tidak suka, harus diakui, Hyundai sukses menerobos panggung elite otomotif dunia. Mereka unggul atas produsen mobil Italia, Inggris, Swedia, dan Perancis. Hyundai hanya kalah dari produsen Jepang, Amerika Serikat, dan Jerman.
Mukiat, salah seorang eksekutif Hyundai Indonesia, menyatakan, produk tersebut mampu menjadi empat besar dunia bukan hanya karena teknologi yang sangat maju, bukan pula sekadar kreasi yang sangat tinggi, melainkan karena sikap rendah hati, tidak merasa lebih dari produsen lain. Para eksekutif papan atas Hyundai tidak pernah merasa puas.
Seorang eksekutif otomotif di Jakarta menyatakan, jangan pernah lengah. Lihat bagaimana nasib Nokia. Produk telepon genggam asal Finlandia itu demikian gagah perkasa, seolah tak ada yang mampu mengejarnya. Namun, ketika datang Blackberry, Nokia langsung terpengaruh. (Abun Sanda)
 

2011年11月14日月曜日

Belajar Mengemudi Mobil.........


2008/1/24 21:56
公開範囲:everyone
Akhir-akhir ini didaerah tempat tinggalku sering kujumpai mobil-mobil dengan “L” plate berseliweran, terutama pada saat week-end. “L” plate yang kumaksud disini adalah mobil yang dioperasikan oleh sekolah mengemudi untuk para murid sekolah tersebut. Si murid duduk dibelakang kemudi dengan sang guru duduk disampingnya sambil memberikan petunjuk-petunjuk.

Setelah murid dianggap mampu mengendarai mobil dengan baik, sang murid bisa mendaftar untuk ujian teori dikantor lalu lintas terdekat (namanya RTA). Jika ujian teori berhasil, maka tahap berikutnya adalah praktek jalanan. Setelah praktek jalanan OK, si murid akan mendapatkan SIM.

SIM di Aussie digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu SIM jenis L, artinya untuk mereka yang benar-benar baru mengemudi untuk petama kali. Pemegang SIM L, harus selalu didampingi oleh seseorang yang mempunyai SIM penuh jika mengemudikan kendaraan. Mobil si SIM L, harus ditempel sticker gede dengan tulisan “L” sehingga pengguna jalan mengetahui status si pengemudi. Setelah setahun tanpa dosa aka tidak melanggar peraturan lalin, SIM jenis L, bisa di-upgrade menjadi P alias Provisional (masa percobaan setahun juga) dan sticker L harus diganti dengan sticker “P”. Pemegang SIM P boleh mengemudikan mobil sendiri. Jika ini mulus tanpa dosa juga, maka barulah kita mendapatkan SIM  penuh dan mobil pun bebas sticker. Selama masih dalam status L atau P, si pengemudi hanya diperbolehkan mengemudikan mobil dalam batasan kecepatan tertentu.

Sistim ini sangat kontras dengan cara perolehan SIM di tanah air. Aku masih ingat ketika aku belajar menyetir mobil dengan sekolah mengemudi di Jakarta, di jalan Gajah Mada di daerah kota (aku lupa namanya), kita belajarnya rombongan. Jadi dengan satu mobil butut, satu guru, tiga murid, berjubel, mefet-mefet di mobil butut sekolah tersebut. Tentunya bisa temans bayangkan situasi didalam mobil yang gerah, mobil jalannya ndut-ndutan karena si murid belum bisa mem-balance antara kopling dan gas dan gurunya yang sering teriak-teriak panik kalau ada muridnya yang sok pinter tiba-tiba tancap gas lalu lupa ngerem dan bis sudah tepat diujung hidung. Heboh deh..!!!

Waktu itu setiap murid diberi jatah ½ jam oleh sang guru. Jadi masing-masing murid harus menanggung sengsara selama 1 jam didalam mobil belajar tersebut. Kita dibawa belajar disekitar lapangan Monas karena sepi sehingga menurut sang guru, kita bisa praktek parkir, maju mundur, muter dll.

Setelah belajar 12x @ 1/2 jam, sang guru menganggap kita sudah pinter dan kita langsung diikutin ujian teori dan praktek di Komdak. Padahal sang guru sih sebenarnya mau cepat2 ganti murid supaya cash flow mengalir lebih cepat.

Selama ujian teori, pak polisi yang jaga, kasih tahu jawabannya ke peserta ujian (multiple choice). Doi mau cepat juga supaya fulus cepat masuk lagi. Ujian praktek sama juga. Giliran naik tanjakan, pak polisi sudah berdiri diujung tanjakan dan stand-by disebelah mobil kita, rem tangan kita tarik dan mobil berhenti. Kemudian pak polisi me-release rem tangannya dan mobil pun meluncur dengan mulus. No problem. Sore itu juga aku mendapatkan SIM penuh, tanpa masa2 percobaan seperti di Aussie.

Malam sesudah mendapat SIM, aku langsung pergi dengan adikku ke daerah Tanah Sereal (dibelakang Gajah Mada Plaza) yang jalannya sempit dan banyak mobil parkir dikiri-kanan jalan. Belum lagi ojek, becak dan bajaj yang berseliweran bagaikan tawon.

Tiba-tiba aku mendengar bunyi sssreetttt…….yang agak keras. Adikku langsung teriak: “Mobil parkir dipinggir jalan kok kamu serempet!” Aku jawab: “Hah…..masa sih, kok aku nggak liat….?”(Lha, gimana mau kelihatan, wong kaca spion kiri mobil aku lipat krn aku pikir nanti takut nyerempet). Mobilku terus berlalu tanpa berhenti.

Tidak lama kemudian aku mulai memasuki arus kemacetan di gang kecil tersebut dan mobilku berhenti tepat ditengah-tengah tanjakan. Dengan pede, rem tangan kutarik dan mobilku berhenti dengan sempurna. Ketika kendaraan didepanku mulai bergerak, akupun me-release rem tangan, tetapi mobilku kok mundur…..???? Coba lagi, mundurrr….durr….durr…..lagi.......Oi......oi.......mana nih pak polisi yang pegangin rem tanganku di Komdak dulu? Tolongin nih hambamu yg nggak bisa mem-balancing kopling,  gas dan rem tangan…….Tuuut....tuuut.....tuuuutttt.......klakson mobil dibelakangku mulai teriak2 dan  para tukang becak dan ojek pada kasih comment: “sopirnya baru…sopirnya baru nih…..”. Wah, ketahuan SIM boleh beli.........

Para abang becak berlarian menahan mobilku supaya nggak tambah mundur dan ditengah-tengah kepanikanku, sambil memegang rem tangan, aku injak pedal gas sekencang-kencangnya dan…..zoommm……mobilku meloncat bak kangguru jantan ngeliat kangguru betina............

Temans, sejak malam yang penuh kenangan tersebut, aku masih mengalami beberapa peristiwa cium mencium dengan mobil ditempat perparkiran. Urusan cium2an dgn mobil lain ini umumnya terjadi pada saat aku mau parkir mundur, atau mau keluar dari tempat parkir, parkir parallel dll. Lha.... waktu belajarnya di Monas yang sepi, jadi gampang banget dan tidak ada kesempatan untuk cium-ciuman dengan mobil lain.

Alhasil, ketika akhirnya aku menjual mobil pertamaku tersebut (jenis gerobak Daihatsu HiJet - lihat foto), mobil tersebut dalam keadaan ompong alias bemper depan dan belakang sudah rontok….(dalam foto diatas, mobilku masih belum ompong, hanya baret-baret kiri kanan hasil cium-ciuman dengan mobil-mobil ditempat parkir).

Yah itulah secuil pengalaman akibat belajar mengemudi mobil secara express. Untunglah, aku sekarang telah menjadi seorang pengemudi yang bisa diandalkan yang telah belajar dari kesalahan-kesalahan awal. Aku sarankan jika teman hendak belajar mengemudi, sebaiknya belajarlah pada sekolah mengemudi yang bereputasi baik, jangan seperti sekolahku yang model borongan itu. Hehehehe………..