ラベル 041 の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示
ラベル 041 の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示

2011年10月22日土曜日

Otak Kanan Itu Semakin Penting

Friday, 03 April 2009 02:47
"Sudah saatnya kita mengandalkan otak kanan, meski sebelumnya guru kita lebih
banyak mengajarkan otak kiri."
Purdi E. Chandra.

Otak kanan memang makin menjadi penting saat ini. Bukan karena kita “sirik”dengan otak kiri, tetapi karena betul-betul dirasakan kebutuhannya, khususnya oleh entrepreneur. Terlebih lagi, karena dalam ilmu manajemen yang selama ini ada, yang lebih didasarkan logika dan rasional, ternyata tidak selamanya mampu mengatasi setiap persoalan bisnis.

brainDan, mengapa harus otak kanan ? Oleh karena, di otak kanan itulah sarat dengan hal-hal yang sifatnya eksperimental, divergen, bukan penilaian, metaforilal, subyektif, non verbal, intuitif, diffuse, holistik, dan reseptif. Sementara kita sadar, bahwa otak kiri cenderung bersikap obyektif , presisi, aktif, logikal , verbal, penilaian, linier, konvergen, dan numerikal. Padahal, jika kita mampu memberdayakan otak kanan, maka ada kecendrungan akan mampu menyelesaikan setiap masalah dalam bisnis, bila dibandingkan kalau kita dengan hanya mengandalkan otak kiri.

Dengan kita mampu memberdayakan otak kanan, maka setiap memecahkan persoalan dalam bisnis, kita pun akan dapat melihat secara keseluruhan, dan kemudian memecahkan berdasarkan firasat, dugaan, atau intuisi. Intuisi ini adalah kemampuan untuk menerima atau menyadari informasi yang tidak dapat diterima oleh kelima indera kita.

Tampaknya ada yang khawatir dengan intuisi, karena mereka pikir intuisi bisa menghalangi pemikiran rasional. Sebenarnya intuisi justru berdasarkan pada pemikiran yang rasional dan tidak dapat berfungsi tanpanya. Saya sependapat dengan Robert Bernstrin, yang mengatakan, bahwa hanya intuisi yang dapat melindungi kita dari orang-orang paling berbahaya, orang-orang yang tidak mampu bekerja dan cuma pinter ngomong.

Lalu? Seorang entrepreneur yang mampu memberdayakan otak kanannya, biasanya juga cenderung memilih manajemen yang berstruktur luwes dan spontan, serta pada struktur yang sifatnya sama.
Lain halnya bila dia lebih mengandalkan otak kirinya. Maka ia akan lebih cenderung pada struktur hirarki dan pada kondisi manajemen yang berstruktur. Mengandalkan otak kiri juga cenderung membuat penyelesaian masalah dipecahkan satu per satu berdasarkan logika.

Kenyataan ini pernah kita alami saat studi dulu. Kita lebih banyak diajarkan atau dilatih oleh guru kita untuk selalu berpikir dengan otak kiri. Misalnya kita selalu dituntut berpikiran logis, analistik, dan berdasarkan pemikiran edukatif. Padahal hal tersebut ada kelemahannya. Kita tak dapat menggunakannya, bila data tak tersedia, data tak lengkap, atau sukar diperoleh data.

Maka, jika kita termasuk kategori otak kiri dan tidak melakukan upaya tertentu untuk memasukkan beberapa aktivitas otak kanan, maka akan menimbulkan ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan tersebut dapat mengakibatkan kesehatan mental dan fisik yang buruk, seperti mudah stres, mudah putus asa atau patah semangat.

Tapi dengan kita mampu memberdayakan otak kanan kita, maka kita juga akan lebih intuitif dalam menghadapi setiap masalah yang muncul. Tentu saja hal tersebut berbeda dengan mereka yang hanya mengandalkan otak kiri, yang cenderung bersifat analistis. Yang jelas, kedua belahan otak tersebut sama pentingnya. Jika kita mampu memanfaatkan kedua otak ini, maka kita akan cenderung “seimbang” dalam setiap aspek kehidupan, termasuk urusan bisnis.

Bagaimana kalau kenyataannya dalam bisnis kita sehari-hari, kerap kali masih diharuskan untuk memutuskan, memilih, dan mengambil keputusan, dari beberapa alternatif yang faktor-faktornya tidak diketahui? Tentu saja, jika proses berpikir kita masih dominan ke otak kiri cenderung bersifat logis, linier, dan rasional, tentu kita menyodorkan berpuluh-puluh pilihan.

Sebaliknya jika proses berpikir kita dominan ke otak kanan yang cenderung acak, tidak teratur, dan intuitif, saya yakin kita dengan antusias yang kuat akan memilih satu pilihan dan berhasil. Maka, tak ada salahnya jika kita mau memberdayakan otak kanan.

Kecerdasan Financial vs Kecerdasan Intelektul


Eko Smart EnglishMasih ingatkah anda akan nasehat popular yang dulu sering dinasehatkan oleh orang tua atau guru di sekolah? “Belajarlah yang pintar nak biar nanti kamu gampang cari pekerjaan supaya bisa hidup enak dan sukses” Sebagian besar kita masih beranggapan bahwa nasihat itu benar dan penting. Bagaimana dengan anda?
Sayapun pada awalnya berpendapat sama, tapi perjalanan dan pengalaman saya membuktikan bahwa sebagian besar orang yang pintar (cerdas secara intelektual) malah bekerja pada orang yang bodoh (tidak cerdas secara intelektual, tetapi cerdas secara financial). Saya sendiri pernah menyelesaikan pendidikan S2 di UGM, tapi pada awal kerja saya, malah bekerja pada perusahaan yang direkturnya malah hanya lulusan SMU, dan semua karyawannya adalah sarjana kecuali OB. nah lho… benar kan kata saya.

Sejak kecil kita seringkali ditanamkan untuk belajar dan berprestasi di sekolah, sehingga dalam mindset kita secara tidak sadar akan tertanam pemikiran, bahwa kalo mau sukses maka harus memiliki pendidikan yang tinggi, sehingga selepas sekolah atau kuliah akan mencari pekerjaan sesuai dengan ijasah kita, seperti yang saya alami dulu. Ternyata akhirnya bekerja pada perusahaan yang pemiliknya Cuma lulusan SMA tapi kok bisa lebih kaya dari saya ya….

Ternyata cerdas intelektual itu bukan jaminan untuk membawa kita mencapai kesuksesan dan kekayaan, bukankah seorang guru atau dosen adalah orang yang memiliki kecerdasan intelektual, akan tetapi banyak kita temukan para kaum pendidik yang hidupnya pas-pasan, Banyak lagi para sarjana yang nganggur ataupun terpaksa bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan background pendidikannya dan jauh dari kesuksesan.

Kecerdasan intelektual cenderung membuat otak kiri sangat aktif sehingga lebih memilih cara aman dalam hidup sehingga setiap bulan pasti terima gajian, yaitu jadi pegawai. Sebaliknya orang yang bodoh (tidak cerdas secara intelektual) akhirnya mengambil jalan jadi pengusaha (karena melamar jadi pegawai tidak diterima), dan tidak jarang menjadi pengusaha yang sukses, dan akhirnya malah merekrut pegawai yang lebih pintar (sarjana). Bahkan pada akhirnya bisnisnya malah berkembang pesat.

Saya memutuskan untuk tidak terjebak dalam dunia kerja yang terlalu lama, maka setelah 6 bulan bekerja di perusahaan orang saya putuskan untuk “memajukan diri” (berhenti jadi pegawai dan menjadi pengusaha) walaupun pada saat itu belum tahu harus usaha apa. Yang penting berani “Action” untuk “memajukan diri”.

Ternyata tidak salah keputusan saya, setelah beberapa kali gagal dalam usaha, akhirnya kursus bahasa Inggris SMART ENGLISH yang dulunya hanya 1 outlet sekarang bisa berkembang menjadi 21 outlet di seluruh Indonesia. Dengan metode “Student Active Center” yang unik bisnis ini bahkan telah dapat dimiliki oleh siapa saja dengan system franchise.

            Apabila kecerdasan financial kita diasah maka secara tidak langsung akan mengasah intelektual kita juga, yang pada akhirnya dapat melakukan apapun yang kita inginkan tanpa harus menguasai masalahnya secara detail. Saya pernah memiliki perusahaan percetakaan, biro iklan, dan tabloid, dan juga bisnis telekomunikasi yang tersebar di beberapa kota, akan tetapi sampai semua bisnisnya tutup dan bangkrut saya sama sekali tidak bisa dan tidak tahu proses cetak-mencetak, desain, apalagi menghandle perusahaan telekomunikasi saya. Untuk setiap pekerjaan yang memerlukan keahliannya, kita dapat bekerja sama atau mempekerjakan staf yang menguasai bidang tertentu, sehingga bisnisnya jalan, yang punya bisa jalan-jalan. Saya yakin anda pasti bisa. Saya pernah melakukannya. Pasti Bisa !!!