KETIKA cinta bersemi antara suami-istri, semakin matang dan semakin dalam dihati dan perasaan setiap pasangan maka hal ini akan mengambil peranan dan gambaran yang baru yang belum ada pada kehidupan mereka sejak dulu.
Dengan hal itu, segala yang sulit menjadi mudah, yang pahit menjadi manis, pengorbanan dan pemberian lebih nikmat daripada mengambil dan memuaskan syahwat duniawi.
Kesetiaan dan perasaan yang tulus antara suami-istri adalah hasil dari cinta yang tulus dan hasil dari penggunaan kenikmatan yang beragam dan terciptanya saling pengertian yang baik.
Di sini akan kami paparkan tentang kesetiaan dan perasaan yang tulus sebagai berikut:
1. Kedudukan kesetiaan.
Ibnu Hazm mengatakan tentang kedudukan ini: ''Kedudukan kesetiaan adalah suatu tabiat yang terpuji, akhlak yang mulia baik dalam cinta maupun yang lainnya. Sesungguhnya ia adalah bukti yang paling kuat dan paling jelas atas asal yang baik dan unsur yang mulia, hal ini dapat diutamakan secara pasti dalam hubungan manusia.
Tentang hal ini aku ungkapkan dalam sebuah syair:
Perbuatan setiap orang terbangun sesuai dengan unsurnya
Pandangan mata telah mencukupimu untuk tidak mencari bayangan
Syarat-syarat kesetiaan yang harus dilakukan oleh suami-istri adalah: menjaga janji kekasihnya, menjaga diri ketika ia tidak ada, berlaku sama saat ia ada atau tidak ada, ia menutupi kekurangannya, menebar kebaikannya, menutupi rahasianya, dan memperbaiki perbuatannya serta tidak memperdulikan kesalahannya, menerima apa yang dia berikan, tidak terlalu menuntutnya sehingga ia lari, tidak memata-matainya, dan tidak memandang dengan bosan.
2. Kesetiaan membuahkan kesetiaan.
Kesetiaan akan membuahkan kesetiaan pula antara suami-istri, karena biasanya kesetiaan adalah suatu pengorbanan, setiap pasangan ingin mengambil suatu manfaat atau menolak keburukan, dia melakukan itu demi pasangannya dan bersabar atasnya. jadi, pengorbanan dengan segala sesuatu yang penting demi sesuatu yang lebih penting itulah kesetiaan antara suami-istri.
Salah seorang pasangan tidak dapat menjamin manfaat atau bahaya pada dirinya, namun ketika dalam hal kesetiaan demi pasangannya, pasti pasangannya akan setia padanya pada saat yang lain, begitulah keduanya saling bertukar keadaan, dan masing-masing pasangan berhasil dalam ujian kesetiaan bagi pasangannya.
Betapa indahnya jika setiap pasangan berusaha berkorban sebesar mungkin demi pasangannya, seakan-akan mereka dalam perlombaan yang ketat dan pemenangnya adalah yang lebih banyak berkorban untuk pasangannya.
Ukuran suatu pengorbanan adalah mudah dan sederhana, sebagai contoh tolak ukur yang paling gampang adalah ukuran tanggung jawab yang telah ditentukan sesuai dengan hak dan kewajiban tiap-tiap pasangan, maksudnya ketika salah seorang pasangan telah melakukan kewajibannya berarti ia telah berkorban demi pasangannya bahkan hal ini berlanjut sampai pada tingkatan lebih mementingkan pasangannya walaupun dia membutuhkan.
Artinya setiap pasangan menginginkan sesuatu yang lebih utama dari apa yang ia senangi untuk pasangannya meskipun setiap manusia diciptakan mencintai kesenangan dan ingin memiliki serta mewujudkan kesenangan syahwatnya, jika seorang pasangan menentang keinginannya dan melakukan untuk pasangannya sesuatu yang lebih utama daripada yang ia lakukan untuk dirinya, hal ini menunjukan betapa jauh pandangan dan kecintaan yang besar antara suami-istri.
Karena berakhlak dengan kesetiaan, pengorbanan, dan mementingkan orang lain karena Allah, maka ia akan memperoleh pahalanya kelak di akhirat. Selain yang ia dapatkan di dunia berupa cinta,kenikmatan, dan kemesraan yang dapat mengalahkan segala kenikmatan dan kesenangan. sudah pasti kesetiaan membuahkan kesetiaan antara suami-istri.
3. Kehilangan nikmat.
Terkadang Allah menguji salah seorang pasangan dengan hilangnya beberapa kenikmatan yang telah Allah berikan padanya, ini adalah sebuah ujian, jika pasangannya sukses didalamnya maka cinta diantara mereka akan semakin bertambah dan semakin kuat. Sebaliknya jika pasangannya gagal didalamnya maka cinta akan berkurang diantara mereka bahkan dapat berubah menjadi kebencian. Oleh karena itu, cinta antara suami-istri tanpa diterpa badai ujian bagaikan bangunan yang dibangun tanpa semen, sedangkan ujian dan cobaan bagaikan api, ketika api itu mendekati bangunan cinta maka ia akan mematangkannya. Apabila pondasi bangunan itu adalah batu bata yang bagus, ia akan berubah menjadi batu bata merah yang akan menambah kekuatan dan kekukuhan bangunan itu. Adapun bila pondasinya buruk maka ia akan berubah menjadi tanah dan bangunannya akan hancur. Maksud dari baik dan buruknya batu bata yang masih mentah itu adalah baik dan buruknya jiwa suami dan istri.
contoh hilangnya kenikmatan:
-Melahirkan dan tidak berketurunan.
-Anak yang keguguran dapat mengampunkan kedua orang tuanya.
0 件のコメント:
コメントを投稿