2011年10月22日土曜日

Salam Untuk Pak Purdie : 
Suatu ketika saya harus mengisi seminar di luar kota, dan kebetulan pada hari itu staf yang biasanya mengurus tiket saya kebetulan sedang sakit, jadi saya terpaksa ke bandara dan langsung membeli tiket di sana. Pada saat berada di loket tiket, petugas bertanya, nama pembeli tiket, tentu saja saya jawab Purdi E. Chandra. Kemudian petugasnya berkata “Pak, saya salah satu fans pak Purdi E.Chandra, tolong sampaikan salam saya kepada beliau ya pak, saya juga pengen jadi pengusaha sukses seperti beliau”, saya hanya bisa bengong dan bertanya dalam hati, emangnya saya siapa?

Bisnis Rano Karno : 
Kalo ada waktu senggang biasanya selalu saya luangkan untuk berolah raga, terutama golf. Suatu saat pada saat bermain golf dan berkenalan dengan beberapa pengusaha di lapangan golf, salah seorang pengusaha bertanya kepada saya, “bisnisnya apa pak?” saya jawab “Bisnis saya di bidang pendidikan”, sejurus kemudian pengusaha tersebut menimpali, “wah bisnis yang bagus sekali pak, di Jakarta ada bisnis pendidikan sangat maju pesat pak, cabangnya juga banyak sekali namanya Primagama, yang punyanya Rano Karno itu lho, bapak pasti tahu kan?” saya hanya bisa menjawab “ya, saya tahu Primagama dan kenal Rano Karno” andai saja pengusaha itu tahu kalo Primagama adalah milik saya dan Rano Karno adalah salah satu bintang yang pernah kita gunakan sebagai bintang iklan di Primagama.
Hutang Itu Mulia : 
Pada saat mengisi sebuah seminar, ada pertanyaan dari seorang peserta seminar, “Pak kenapa menurut bapak hutang itu mulia, bukannya kalo hutang kita malah menambah beban pengeluaran tiap bulan” saya jawab dengan ringan “ hutang itu mulia, karena kalo kita berutang apalagi kepada bank, maka tiap bulan kita pasti membayar angsurannya yang dapat digunakan untuk membayar gaji dan bonus pegawai bank. Coba saja kalo tidak ada orang yang ngutang ke bank, terus pegawai bank gajiannya dari mana? Dan berarti juga kita mempunyai sifat sebagai pemberi (membayar angsuran) yang lebih mulia daripada penerima”
 TOP

Sedekah Ala Otak Kanan :
Seorang murid saya di Entrepreneur University (EU), penasaran dengan cerita saya tentang sedekah. Suatu ketika murid EU tersebut dalam perjalanan dari Surabaya menuju ke Batam untuk suatu keperluan bisnis. Karena pesawatnya transit di Bandara Soekarno-Hatta, maka murid saya ini sempatkan untuk mampir ke toilet di Bandara. Setelah selesai dari toilet dilihatnya ada petugas cleaning service yang sedang membersihkan toilet. Rupanya murid saya ini ingin mempraktekkan jurus “sedekah ala otak kanan, ga pake mikir langsung action” maka dikeluarkan dompetnya dan diberikannya Rp. 500.000,- kepada cleaning service tersebut.
Dengan setengah kaget dan mengucapkan terima kasih si cleaning service itu berkata, “seumur-umur saya jadi cleaning service belum pernah ada yang ngasi saya segini pak, trimakasih banyak pak”, murid saya juga menjawab, “sama pak, seumur-umur saya juga belum pernah ngasi cleaning service Rp. 500.000,-“.
Beberapa hari kemudian kunjungan bisnisnya di Batam membawa hasil, Murid saya berhasil memperoleh kontrak bisnis senilai Rp. 20 Milyar. Terbukti sedekah juga harus pake otak kanan, tanpa mikir langsung action.
Marketing Ala Otak Kanan :
Pada waktu saya mengisi seminar Entrepreneur University, saya sering membahas manfaat penggunaan otak kanan dalam usaha. Otak kanan membuat kita kreatif dan tanpa terlalu banyak memikirkan hal-hal yang rumit. Seorang murid saya di Bali mempraktekkan marketing ala otak kanan. Murid saya ini berbisnis nasi kotak. Rupanya supaya nasi kotaknya laku dan membuat penasaran pelanggangnya, maka dibuatlah bungkus nasi kotak yang bergambar komik dengan cerita bersambung. Tujuannya adalah supaya konsumennya menjadi penasaran dan besoknya beli lagi nasi kotaknya untuk mengetahui cerita bersambungnya. Suatu cara marketing yang luar biasa.

Suatu ketika saat bertemu kembali dengannya, saya teringat bisnisnya, dan saya tanyakan bagaimana perkembangan bisnis nasi kotak bergambar komiknya tersebut, lalu dia menjawab, “Sekarang saya kewalahan pak banyak pesanan”, “wah bagus dong berarti usaha nasi kotaknya tambah maju dong” tanya saya. Murid saya menjawab : “bukan nasi kotaknya yang banyak pesanannya pak, tapi kotaknya saja yang laris dibeli orang, soalnya ada cerita bersambungnya, dan sekarang saya lagi sibuk ngarang cerita bersambung”.
Action :
Sepasang kekasih sedang dalam kendaraan berduaan. Si cowo sambil nyetir bertanya pada kekasihnya, “dik, boleh abang pegang jarinya dik?”, si cewe diam saja, kemudian si cowo melanjutkan, “dik, boleh abang pegang tangannya dik?”, si cewe diam saja. Seolah mendapatkan persetujuan si cowopun melanjutkan, “dik, boleh abang pegang pahanya dik?”, si cewe tetap diam saja. Seperti mendapat angin segar, si cowo berkata lagi, “dik boleh abang pegang”, tiba-tiba “Plak..plak..plak” si cewe menempeleng cowonya sambil berkata, “Abang kebanyakan omong kapan pegangnya”.
Rupanya kebanyakan omong tidak action, action percuma. Sama seperti bisnis, kalo kebanyakan omong tidak action maka tidak akan menghasilkan apa-apa.

Sedekah sampai Pingsan :
Saya sangat percaya bahwa sedekah akan membuka pintu rejeki kita lebar-lebar. Suatu ketika, seperti biasa saya sering bersedekah kepada seorang ibu pengurus yayasan. Seperti biasa setelah mentransfer dana kepada yang bersangkutan, cuma kali ini jumlahnya agak besar, kemudian saya sms kepada beliau “Bu, saya sudah transfer sujumlah uang untuk ibu guna keperluan umroh”. Biasanya ibu ini segera membalas sms saya. Hari itu sampai sore kok tidak ada balasan sms atau telepon kepada saya. Mudah-mudahan beliau sudah terima, demikian pikiran positif saya.
Menjelang magrib tiba-tiba ada telepon dari beliau “maaf pak, saya tadi pingsan saat membaca sms pak Purdie, karena saya pingin banget umroh, kok tiba-tiba ada orang yang membiayai saya umroh, terima kasih pak” demikian kata beliau. Terjawab sudah kekhawatiran saya, rupanya ibu itu kaget dan pingsan setelah terima sms dari saya. Bebrapa hari kemudian saya mendapatkan rejeki nomplok lebih dari 20 kali lipat sedekah umroh sampai pingsan.
Memulai Usaha Seperti Masuk Kamar Mandi
Saya sering memberi contoh bahwa memulai usaha itu sebaiknya sama seperti masuk ke kamar mandi. Dimana persamaannya? Memulai usaha sebaiknya jangan terlalu banyak dipikir, sebab kalo terlalu banyak dipikir tidak akan mulai-mulai. Sama seperti masuk kamar mandi. Tidak ada orang yang sebelum masuk kamar mandi berpikir dahulu, misalnya apakah mandi saya akan sukses nanti, apakah sabunnya sudah ada atau belum, apakah nanti airnya cukup atau tidak?
Itulah persamaannya, jadi memulai usaha sama dengan masuk ke kamar mandi, tidak usah terlalu banyak dipikir. Kalo ternyata saat masuk kamar mandi sabunnya tidak ada tinggal keluar lagi ambil sabun, kalo handuknya ketinggalan tinggal teriak minta tolong diambilkan handuk. Begitu juga bisnis, tidak perlu terlalu banyak dipikir, karena kalo terlalu banyak dipikir, maka tidak akan buka usaha, tapi kalo sudah dibuka usahanya, maka pasti akan mikir juga. Selamat memulai usaha.
Cocok, Langsung Tawar

Saya sering mencontohkan cara praktis memulai usaha. Bila kita ingin mulai usaha biasanya langkah pertama adalah mencari lokasi usaha. Maka segeralah mencari lokasi untuk usaha. Bila ada yang cocok dengan keinginan dan persyaratan yang kita mau, maka segera saja ditawar. Seorang peserta seminar bertanya, “pak bagaimana kalo kita tidak punya uang saat menawar tempat usaha, atau ruko tersebut?”, “namanya manawar kan tidak pake uang pak, hanya latihan menawar sebagai latihan tahap awal menjadi pengusaha, dan usahakan nawarnya yang kira-kira tidak diterima oleh pemiliknya, kan kita baru latihan. Misalnya bila harga sewa ruko Rp. 30jt/tahun, maka ditawar saja Rp. 15 jt/tahun, pasti tidak dikasi sama pemiliknya” demikian jawab saya. 
“Bagaimana, kalo ternyata sama pemiliknya dikasi Rp. 15jt/tahun pak?” si peserta seminar bertanya lagi. “ Wah kalo begitu, kita harusnya marah sama pemiliknya, kok baru ditawar sekali langsung dikasi, tapi jangan khawatir, bila kita bawa uang Rp. 100ribu, boleh kita berikan kepada pemiliknya sebagai tanda jadi, berarti sisanya adalah Rp. 14,9 jt. Dimana-mana yang namanya sisa pasti lebih mudah mencarinya” demikian jawaban saya.

Optimis vs Pesimis
Pengusaha biasanya selalu optimis dan tidak pesimis, karana OPTIMIS adalah singkatan dari : Oke Pasti Tidak Miskin, dan PESIMIS dalah singkatan dari : PEnyakit SI MISkin

Resiko vs Rejeki
Suatu ketika saya pernah membaca buku “Sejarah Berdirinya Resiko” dibuku itu disebutkan bahwa resiko berbanding lurus dengan rejeki. Apabila resiko yang dihadapi kecil maka rejekinya juga kecil, dan sebaliknya bila resiko yang dihadapi besar maka rejeki yang akan diterima juga besar. Pelayan restoran resikonya memecahkan piring, maka rejekinya juga sepiring. Pengusaha restoran resikonya memecahkan restoran dan rejekinya juga sebesar restoran. 
Mulai Bisnis Apa Pak?
Seorang peserta seminar meminta pendapat saya tentang bisnis yang akan dibukanya. “Pak saya tertarik di bisnis transportasi, tapi pada saat yang bersamaan saya juga melihat peluang besar di bisnis laundry, dan internet, sedangkan pengalaman saya selama lebih dari 10 tahun di bidang pendidikan sehingga saya yakin kalo saya bisnis pendidikan pasti sukses, istri saya sendiri saat ini bekerja di restoran yang ternama dan mengajak saya untuk berbisnis kuliner pak, sebaiknya saya mulai bisnis apa ya pak?” Saya jawab, “kalo bingung sebaiknya kita pilih aja sesuai nomor urut kancing baju yang kita pake, atau dipilih dengan cara melempar dadu sesuai nomor usaha yang akan dibuka, karena apapun yang dipilih sama-sama belum jelas karena bisnisnya belum dibuka, bisnis baru jelas kalo sudah dibuka dan dijalankan, jadi seilahkan bisnis apa saja”, si bapak hanya tersenyum sambil manggut-manggut tanda mengerti yang saya maksudkan.

Berani Optimis Bisnis Orang Lain (BOBOL)
Pak Koma, seorang murid saya di Entrepreneur University, yang saat itu sudah memiliki jabatan penting di salah satu lembaga keuangan di Jakarta, bingung bagaimana memulai usaha. Sampai suatu ketika dia mendapat ide untuk mengajak kerjasama Purwa Caraka yang sudah terkenal dan malang melintang dalam dunia musik selama puluhan tahun. Pak Koma mengajak Purwa Caraka untuk membuat sekolah musik purwa Caraka. Alhasil dengan ide otak kanannya itu, saat ini Pak Koma memegang lisensi Sekola Musik Purwa Caraka dengan lebih dari 100 outlet di seluruh Indonesia. Saya menjulukinya pakar BOBOL: Berani Optimis Bisnis Orang Lain.
Hutang Budi dan Hutang Bank
 
Untuk mengembang usaha seringkali kita perlu bekerjasama dengan lembaga keuangan agar bisnis kita cepat berkembang. Pada saat saya mulai mengembangkan usaha, saya memberanikan diri untuk meminjam ke Bank BTN sebesar Rp.50jt. Dua tahun kemudian saya ingin mengembangkan usaha lagi dan saya mendapatkan pinjaman dengan jaminan yang sama sebesar 100jt dari Bank BNI, sehingga hutang saya di bank BTN sebesar Rp.50 juta lunas dan sekarang mendapat tambahan modal sebesar Rp.50jt lagi. karena nilai asset saya terus nai, setahun kemudian saya mendapat tawaran dari bank lain sebesar Rp.300jt dan dengan hati saya ambil untuk pengembangan usaha. Sehingga hutang saya di bank BNI sebesar Rp.100jt akhirnya juga lunas. Sekarang saya malah mendapat tambahan modal usaha lagi sebesar Rp.200jt. Seperti kata pepatah, hutang budi dibalas budi, hutang Bank, dilunasi Bank.  
Menjaga Silaturahmi
 
Sebagai umat beragama maka kita harus menjaga silaturahmi dengan siapa saja, demikian juga dengan pegawai Bank. Suatu saat ada seorang murid saya yang terlambat membayar kewajiban angsurannya di bank dan meminta pendapat saya. Saya katakan sebagai seorang pengusaha adalah hal biasa kalo terjadi telat bayar angsuran ke Bank. kalo kita bayar lancar terus dan tepat waktu, maka tidak akan pernah dihubungi dari pihak bankm sehingga tidak ada hubungan silaturahmi. Namun bila ada keterlambatan pembayaran angsuran, maka pasti kita akan dihubungi sehingga terjalin komunikasi dan hubungan silaturahmi, sehingga akan menjadi motivasi kita untuk menjadi lebih baik lagi. 
 
 
Berani Action, Berani Sedekah
 
Suatu malam saya berniat untuk mengambil duit di ATM saya, pada saat saya antri di ATM, saya mendengar percakapan seorang Ibu yang sedang berada di depan mesin ATM, rupanya duitnya kurang , sedangkan Ibu tersebut harus membiayai biaya rumah sakit anaknya sebesar Rp.2jt. Setelah Ibu itu selesai, saya sampaikan, "Bu boleh saya bantu?" Akhirnya saya mengambil duit sebesar Rp.2jt dan saya berikan kepada Ibu tersebut. Dua hari kemudian ada orang yang menghubungi saya untuk membayar Rp.150jt. Rupanya Berani Action bukan hanya untuk bisnis tapi juga untuk sedekah, hasilnya dijamin berlipat-lipat.
Percaya dan Yakin
 
Pada saat mulai mengembangkan Primagama dari Jogja ke Solo, saya meminta supr saya untuk membawa peralatan kantor dengan menggunakan kendaraan dari Jogja ke Solo. Di perjalanan , supir saya menabrak pohon. Sebagai orang Jawa, biasanya kalo kita ingin memulai sesuatu dan terjadi hal yang buruk, maka biasanya dipercayai sebagai pertanda kurang baik. Saya sendiri dengan optimis yakin dan percaya bahwa hal ini adalah pertanda baik, dan saya malah bertanya kepada supir saya "apa kamu gak liat ada pohon nyebrang, kok sampai kamu tabrak?" Terbukti keyakinan dan kepercayaan saya benar. Saat ini Primagama telah berjumlah lebih dari 700 outlet di seluruh Indonesia.  
 
Allah Itu Seperti Persangkaan hamba-Nya
 
Sukses dan gagalnya kita ditentukan oleh kita sendiri, sehingga tidak perlu menyalahkan pihak lain apalagi menyalahkan takdir. Allah itu selalu berkata iya pada apa yang kita inginkan. Bila kita yakin sukses, maka Allah akan mengabulkan, bila kita ragu akan sukses maka juga akan dikabulakn sehingga tidak sukses-sukses. Bila kita khawatir gagal, maka pasti juga dikabulkan dan akan gagal. Mulai sekarang mari berpikiran yang positif yang yakin dengan kesuksesan.
 

Kisah Pengusaha Sukses

Ical Bakrie: Saya Pernah Lebih Miskin dari Pengemis! PDF Print E-mail
Tuesday, 26 July 2011 08:41
IcalSelama ini banyak orang bertanya kepada saya bagaimana rahasianya menjadi pengusaha yang sukses. Mereka berharap saya bersedia membagi pengalaman dan kiat-kiat berusaha supaya sukses.

Bagi saya,  membagi pengalaman kepada orang lain menyenangkan, apalagi bila pengalaman saya tersebut bermanfaat.

Senin 5 April lalu, saya diundang oleh Universitas Islam As Syafiiyah, Jakarta, untuk membagi pengalaman. Dalam acara bertajuk “Studium Generale Kewirausahaan” itu saya diminta memberikan ceramah mengenai kewirausahaan dan kiat sukses berbisnis.

Kepada para mahasiswa saya katakan untuk sukses berbisnis kita tidak bisa hanya belajar di bangku kuliah saja. Bangku kuliah hanya mengajarkan dasar dan teori. Sisanya kita belajar kepada mereka yang telah berhasil. Orang itu tidak harus S3 untuk menjadi pengusaha. Bisa jadi hanya S1 seperti saya, bahkan ada yang tidak memiliki ijasah.

Apa langkah pertama yang harus dilakukan untuk memulai usaha dan menggapai kesuksesan? Jawabannya adalah mimpi. Kita harus berani bermimpi menjadi orang yang sukses. Sejarah juga membuktikan banyak temuan hebat dan orang sukses dimulai dari sebuah mimpi. Kalau anda bermimpi saja tidak berani, ngapain membuka usaha.

Tentu saja tidak hanya berhenti sekedar mimpi untuk mencapai sukses. Setelah mimpi anda bangun, lalu pikirkanlah mimpi anda. Berfikirlah yang besar. Seperti kata miliarder Amerika Donald Trump; if you think, think big. Pikir yang besar, pikir jadi presiden, jangan pikir yang kecil-kecil.

Setelah itu anda buat rencana, buat rincian, dan bentuk sebuah tabel. Terakhir, yang paling penting, segera jalankan rencana tersebut. Jika anda bertanya perlukah berdoa? saya katakan berdoa itu perlu (baca : sangat penting). Tapi perencanaan juga perlu. Doa saja tanpa perencanaan saya rasa tidak akan berhasil.

Dulu waktu masih kuliah, saya biasa membuat perencanaan dan membagi waktu. Saya bangun sholat Subuh, lalu latihan karate, setelah itu tidur lagi sampai pukul 10. Baru pukul 11 belajar.

Intinya dengan perencanaan, masalah akan terselesaikan dengan baik. Sekarang juga begitu, saya bagi waktu untuk partai dan lainnya. Pukul sekian seminar, pukul sekian jadi pembicara, pukul sekian… Kadang 10 masalah bisa saya selesaikan sehari.

Keluhan paling sering dilontarkan orang yang tidak berani berusaha adalah tidak mempunyai modal atau dana. Banyak juga yang berkata saya bisa sukses karena ayah saya pengusaha. Itu salah besar. Saat memulai usaha saya tidak mempunyai uang.

Saat akan membeli Kaltim Prima Coal (KPC) saya juga tidak memiliki dana. Caranya saya datangi calon kontraktor dan tawarkan kerjasama yang menguntungkan dia, tapi saratnya dia pinjami saya dana. Saya juga mendatangi bank dan berkata demikian. Lalu dari uang yang dipinjamkan itu, saya membeli KPC dan sekarang menjadi perusahaan besar.

Jangan pernah bicara tidak punya dana. Uang datang jika ada ide besar atau ada proyek yang visible. Bill Gates juga tidak mempunyai uang, tapi dia mempunyai ide bagus. Dia tidak lulus kuliah, dia bukan anak orang kaya, tapi dari garasinya dia bisa membuat Microsoft jadi perusahaan besar.

Maka pikirkan ide yang bagus, lalu anda cari partner yang punya uang. Yakinkan dia dan berkerjasamalah dengan dia. Jika dalam kerjasama partner anda meminta keuntungan lebih besar, jangan persoalkan.
Misal semua ide dari anda tapi anda hanya dapat 10%, itu tidak masalah. Sebab 10% itu masih untung dari pada anda tidak jadi bekerjasama dan hanya dapat nol %. Jangan lihat kantong orang, jangan lihat untung orang, lihat kantong kita ada penambahan atau tidak.

Setelah anda menjalani usaha, suatu saat anda pasti akan menghadapi masalah. Hadapi saja masalah itu, karena masalah adalah bagian dari hidup yang akan terus datang. Saya sendiri juga pernah menghadapi masalah saat krisis ekonomi 1997-1998. Saat itu keadaan perekonomian sulit, semua pengusaha dan perusahaan juga sulit.

Saat itu saya jatuh miskin. Bahkan saya jauh lebih miskin dari pengemis. Ini karena saya memiliki hutang yang sangat besar. Hutang saya saat itu sekitar USD 1 miliar. Di saat yang sulit ini biasanya sahabat-sahabat kita, rekan-rekan kita semua lari.

Karena itu di saat yang sulit ini, kita tidak boleh memperlihatkan kita sedang terpuruk. Jangan perlihatkan kita sedang gelap. Seperti yang diajarkan ayah saya Achmad Bakrie; jangan biarkan dirimu di tempat yang gelap, karena di tempat yang gelap bayangan pun akan meninggalkanmu.

Maka saat susah itu saya tetap tegar dan tidak menunjukkan keterpurukan. Bahkan saya terpilih jadi ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk yang kedua kalinya. Kalau saat itu saya tunjukkan keterpurukan, mana mau mereka memilih saya.

Tapi yang penting setelah kita terpuruk, kita harus bangkit kembali. Kalau saat itu saya tidak bangkit, maka tidak bisa saya seperti saat ini. Saya berprinsip hadapi saja masalah, jangan lari. Banyak usaha yang saya lakukan, misalnya melepas saham keluarga dari 55% jadi tinggal 2,5%. Saya juga mencari pinjaman sana-sini.

Akhirnya dengan usaha keras pada tahun 2001 saya bisa bangkit kembali dan hutang saya bisa dilunasi dan bisnis saya membaik kembali.

Itulah pengalaman saya selama ini. Saya berharap bisa menjadi ilmu yang berguna. Papatah mengatakan pengalaman adalah guru yang paling baik. Sebagai penutup saya ingin bercerita mengenai kisah telur Colombus. Suatu saat Colombus menantang orang-orang untuk membuat telur bisa berdiri.

Saat itu tidak ada satupun orang yang bisa membuat telur berdiri. Kemudian Colombus memberi contoh cara membuat telur berdiri dengan memecahkan bagian bawahnya. Lalu orang-orang berkata; ah, kalau begitu caranya saya juga bisa.

Nah, saya ingin menjadi Colombus. Saya tunjukkan caranya, lalu anda mengatakan; kalau begitu saya juga bisa. Kemudian anda memulai usaha dan menjadi berhasil dan sukses. Saya senang kalau anda sukses, karena semakin banyak orang sukses, semakin maju bangsa ini.
Last Updated on Thursday, 28 July 2011 02:11
 
Kisah Sukses Purdi E. Chandra PDF Print E-mail
Thursday, 15 October 2009 07:55
Purdi E. Chandra. Pada akhir  tahun 1981, saya merasa tidak puas dengan pola kuliah yang membosankan. Saya nekad meninggalkan kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal dalam mengejar cita-cita lain. Kemudian pada tahun 1982 saya mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.
Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Dari awalnya yang sangat sepi peminat - hanya 2 orang - sampai akhirnya peminatnya membludak hingga Primagama dapat membuka cabang di ratusan kota di penjuru tanah air, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia.
Bukan suatu kebetulan jika pengusaha sukses identik dengan kenekatan mereka untuk berhenti sekolah atau kuliah. Seorang pengusaha sukses tidak ditentukan gelar sama sekali. Inilah yang dipercaya Purdi ketika baru membangun usahanya.
Kuliah di 4 jurusan yang berbeda, Psikologi, Elektro, Sastra Inggris dan Farmasi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan IKIP Yogya membuktikan kecemerlangan otak Purdi. Hanya saja ia merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan pola kuliah yang menurutnya membosankan. Ia yakin, gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal meraih cita-cita. Purdi muda yang penuh cita–cita dan idealisme ini pun nekad meninggalkan bangku kuliah dan mulai serius untuk berbisnis.
Sejak saat itu Purdi mulai menajamkan intuisi bisnisnya. Dia melihat tingginya antusiasme siswa SMA yang ingin masuk perguruan tinggi negeri yang punya nama, seperti UGM. Ini merupakan peluang bisnis yang cukup potensial, bagaimana jika mereka dibantu untuk memecahkan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi, pikirnya waktu itu. Purdi lalu mendapatkan ide untuk mendirikan bimbingan belajar yang diberi nama, Primagama.
“Saya mulai usaha sejak tahun 1982. Mungkin karena nggak selesai kuliah itu yang memotivasi saya menjadi pengusaha,” kisah Purdi. Lalu, dengan modal hasil melego motornya seharga 300 ribu rupiah, ia mendirikan Bimbel Primagama dengan menyewa tempat kecil dan disekat menjadi dua. Muridnya hanya 2 orang. Itu pun tetangga. Biaya les cuma 50 ribu untuk dua bulan. Kalau tidak ada les maka uangnya bisa dikembalikan.
Segala upaya dilakukan Purdi untuk membangun usahanya. Dua tahun setelah itu nama Primagama mulai dikenal. Muridnya bertambah banyak dan semakin banyak saja. Setelah sukses, banyak yang meniru nama Primagama. Purdi pun berinovasi untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikannya ini. “Sebenarnya yang bikin Primagama maju itu setelah ada program jaminan diri,” ungkapnya soal rahasia sukses mengembangkan Bimbel Primagama. Dan berkat kerja keras selama ini Primagama masih menjadi market leader di bisnis bimbingan belajar dengan lebih dari 700 outlet di seluruh Indonesia.
Last Updated on Friday, 15 July 2011 08:38
 
Kisah Sukses Mr. JOGER PDF Print E-mail
Friday, 27 March 2009 08:56
Mr Joger Mr.JOGER. Orang kreatif adalah orang yang bisa memunculkan ide dan diterima orang lain dengan senang hati. Salah satunya adalah Joseph Theodorus Wulianadi alias Mr Joger, BAA, BSS (Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa). Pemilik pabrik katakata Joger ini bahkan disebut sebagai orang kreatif yang mampu memunculkan ide gila, aneh, menipu semua orang tapi bagaimana yang ditipu tidak merasa ditipu, dan malah merasa senang.
Berawal dari itikad baik untuk menjadi manusia yang baik, minimal tidak menjadi parasit di negeri tercinta atau tidak menjadi pengangguran atau menjadi beban bagi orang lain adalah motivasi awal bagi Mr Joger untuk merintis usaha. ”Saya ini kan bukan ahli bahasa. Saya juga bukan orang pintar. Tapi tampaknya saya punya keyakinan yang cukup untuk mendukung keberanian saya mengemukakan niat-niat baik melalui karya-karya saya yang jelek-jelek. Tapi bukan salah saya kalau ternyata banyak masyarakat dalam maupun luar negeri yang jatuh hati dan secara rutin mau membeli produk-produk Joger yang jelek-jelek tapi
unik ini,” tegas Mr Joger. Bisnis bagi saya adalah bagaimana caranya “menipu” konsumen secara baik-baik, sehingga mereka merasa senang dan merasa tidak ditipu, dan datang lagi minta ditipu secara berkesinambungan.

Marketing yang andal adalah orang yang sudah bisa mempengaruhi jiwa konsumen. Bukan lagi hanya kantongnya, sehingga orang tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Kunci keberhasilan adalah kejujuran yang mengandung itikad baik. Dalam berusaha saya tidak selalu memikirkan untung. Keuntungan hanya membuat kita kaya secara meteri, namun tidak secara batin. Untuk apa kaya kalau tidak bahagia? Bukan berarti saya menganjurkan miskin. Akan lebih rugi bila sudah miskin tidak bahagia. Jadi tujuan hidup bukan miskin atau kaya, tapi bahagia.Yang disebut bahagia adalah orang yang bisa berkarya untuk diri sendiri dan bermanfaat untuk masyarakat. Kalau mau kaya, usahakan jangan sampai orang lain menjadi miskin karenanya. Saya mempunyai filosofi, “lebih baik sedikit tetapi cukup daripada banyak tetapi kurang.” Miskin di sini saya artikan adalah cukup. Kalau sudah merasa sudah cukup, untuk apa memikirkan banyak?
Dalam hidup saya memakai sistem kompromi. Separuh untuk nafkah separuh lagi untuk kehidupan. Karena mencari nafkah itu belum tentu hidup. Apabila sudah bisa menikmati hidup, barulah namanya
hidup. Hidup itu sebenarnya mudah karena Tuhan Maha Baik, Dia akan memberikan segala yang diminta hambanya. Manusia itu sering berbicara bahwa Tuhan Maha Tahu, tapi mereka sok. Tuhan Maha Kuasa tapi
kita sok kuasa akhirnya kita tidak mau rendah hati. Sebetulnya, kalau rendah hati, hidup ini jadi indah.
Selain mengelola Joger, saya juga sering menjadi pembicara di seminar-seminar.Saya sering mengungkapkan , kembangkanlah diri kalau mau percaya diri. Tapi sebelum mengembangkan diri, harustahu diri. Jadi intinya adalah tahu diri, setelah itu percaya diri. Bagaimana bisa berusaha, bila tidak percaya diri dan tidak bisa mengembangkan diri?
Last Updated on Friday, 16 October 2009 02:47
 

Menjadi Pengusaha Properti Modal Nekat

Monday, 25 July 2011 08:39
perumahanSuatu ketika saat berada dalam penerbangan Lion, duduk disebelah saya seorang bapak yang senang berbincang-bincang, sehingga walaupun saya agak ngantuk, saya terpaksa melayani beliau berbincang. Setelah berkenalan beliau bertanya “Apa pekerjaanya mas?”, “Saya usaha di bidang property pak” jawab saya. “Wah kalo gitu pasti modalnya besar ya, anda pasti orang kaya?” kata beliau sambil memuji saya, saya menjawab,”saya bukan orang kaya pak, justru saya kepingin kaya, makanya saya bisnis property, dan lagi saya memulai bisnis property dengan modal dana yang sangat minim pak” demikian saya menimpali pertanyaannya. Dengan nada keheranan beliau membalas, “mas, setahu saya bisnis property itu bisnisnya orang kaya, karena tidak sembarang orang bisa berbisnis itu, perlu dana besar untuk masuk ke bisnis property lho, bagaimana anda bisa melakukannya?” tanya beliau kepada saya. “Memang pak, kalo kita lakukan bisnis property dengan cara yang konvensional akan membutuhkan modal dana yang besar sekali, untuk pembelian lahan, persiapan, pengurusan ijin dan lainnya sehingga tentu saja tidak sembarang orang bisa melakukannya, tapi karena cara yang saya gunakan berbeda maka dananya sangat kecil sekali” saya menjawab. “lho emangnya modal anda apa? koneksi, pengalaman, atau mungkin anda punya pemodal besar?”, beliau semakin penasaran bertanya, “modal saya cuma modal nekat dan penasaran pak” jawab saya. “Lho kok bisa? Bagaimana ceritanya?” rupanya beliau semakin penasaran.

Akhirnya saya terpaksa bercerita, saya pada awalnya tertarik untuk berbisnis property, akan tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Pada saat itu saya hanya punya keyakinan bahwa suatu saat saya akan berbisnis di bidang property. Rupanya Tuhan selalu mendengar dan mengabulkan keinginan hambaNya bila hambaNya benar-benar yakin akan dikabulkan. Karena saya sering berbicara akan berbisnis property maka suatu ketika datang penawaran dari seseorang  untuk membeli lahan tanahnya yang bisa digunakan untuk perumahan. Rupanya saya tidak siap pada saat itu, sehingga saya melewatkan kesempatan pertama saya. Tak lama berselang datang lagi penawaran yang sama dari orang lain. Kesempatan yang kedua tidak saya sia-siakan. Tanpa pengetahuan dan pengalaman sama sekali di bidang property saya nekad mengambil peluang itu. Rasa penasaran membawa saya untuk “action”, karena menurut saya, kita tidak akan pernah tau hasilnya bisa kita tidak “action”.

Alhasil saya segera membayar tanda jadi kepada pemilik lahan dengan perjanjian sisanya dibayar bertahap. Sayapun segera mencari partner untuk menjalankan usaha ini, tentunya partner yang saya cari adalah orang yang berpengalaman di bidangnya, mengingat saya belum berpengalaman pada saat itu. Tapi ternyata calon partner saya mengatakan bahwa lokasi yang saya miliki tidak potensial untuk dikembangkan menjadi perumahan. Wow, saya hampir putus asa pada saat itu. Untung saya teringat kata pepatah “winner never quit”, kemudian saya putuskan untuk menyelesaikan “permainan” ini. Saya semakin penasaran, dan bertanya pada diri sendiri, apa benar lokasi yang saya miliki tidak potensial untuk dikembangkan?. Rupanya hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Action dan Lakukan saja, nanti akan ketahuan hasilnya.

Tidak lama kemudian saya segera action untuk membuka kantor pemasaran di lokasi yang strategis di sekitar lokasi perumahan yang akan dibangun, beberapa staf dan karyawan saya rekrut untuk menjadi marketing. Tidak hanya itu, saya juga mencari desainer untuk membuat brosur perumahan yang menarik. Tanpa saya duga ternyata respon lumayan bagus, dengan marketing program yang menarik dalam waktu 4 bulan 50 unit rumah yang kami tawarkan ludes diserbu konsumen.

Saya bersyukur bahwa respon dari konsumen cukup bagus, tapi untuk menyelesaikan pembangunan 50 unit rumah diperlukan dana milyaran rupiah, dan dana yang saya miliki jauh dari cukup. 95% konsumen lebih memilih membeli rumah dengan cara KPR, sedangkan saya hanya memiliki uang muka sebesar 10% - 20% dari harga rumah. Tidak kehilangan akal, saya kemudian menghubungi pihak Bank dan memberikan proposal pembangun perumahan beserta daftar calon konsumen yang akan membeli rumah yang tentunya akan menjadi nasabah Bank tersebut nantinya melalui Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).

Singkat cerita, rupanya pihak Bank menaruh perhatian pada proposal yang saya sampaikan, dan setelah melengkapi persayaratan administrasi yang diperlukan 2 bulan kemudian pihak Bank memberikan pinjaman dana kepada saya untuk menyelesaikan  pembangunan 50 unit rumah yang telah dipesan konsumen.

Alhamdullilah dalam tempo 1 tahun pembangunan selesai dan konsumen mulai melakukan akad KPR di Bank dan kewajiban ke Bank-pun segera terlunasi. Saat ini saya sedang mengembangkan perumahan tahap II di lokasi yang bersebelahan dengan lokasi perumahan tahap I, dan hingga saat ini telah 50% dipesan oleh konsumen. Selain itu saya juga sedang mengembangkan perumahan di lokasi lainnya sebanyak 100 unit rumah dan 10 buah ruko diatas lahan seluas 2 hektar.

“Luar biasa, saya ini sebenarnya lulusan Teknik Sipil lho mas, tetapi saya tidak pernah berkecimpung di bisnis property, karena saya kira bisnis property hanya untuk orang yang bermodal besar saja”  teman baru saya menimpali cerita saya, “bisnis property modalnya memang besar pak, yaitu tekad dan nekadnya harus besar, biarpun modal keuangan terbatas tapi kalo modal nekat dan tekadnya besar, Insya Allah pasti bisa, dan ngomong-ngomong walaupun saya bukan lulusan teknik sipil tapi saya pernah ke catatan sipil lho pak” kata saya sambil tersenyum.

“Saya mulai mengerti sekarang bagaimana bisa menjadi pengusaha property, terus bagaimana masalah perijinan dan pembangunannya?” tanya beliau, “Intinya menurut saya, tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi, tidak ada orang yang gagal, yang ada hanyalah orang yang terlalu cepat menyerah, sayapun yakin siapapun, tanpa pengalaman sekalipun di bidang property pasti bisa menjadi pengusaha property, saya sudah membuktikannya”, demikian kata saya menutup pembicaraan. Tak terasa pesawat telah sampai di tempat tujuan. Setelah bertukar nomor handphone dan bersalaman akhirnya kami berpisah di bandara.
 
(Eko Prianto)

 “tidak ada orang yang gagal, yang ada hanyalah orang yang terlalu cepat menyerah”
 “Tanpa pengalaman, tanpa latar belakang di bidang property, siapapun bisa menjadi propertypreneur (pengusaha property), saya telah membuktikan”

Eko : 081215323356, email : propertypreneur212@yahoo.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Last Updated on Wednesday, 27 July 2011 02:04
 

Peluang Bisnis Pendidikan yang Mengguntungkan

Tuesday, 26 July 2011 03:45
purdie dan smart englishHadirnya Globalisasi dan Era Informasi menuntut kita untuk menguasai bahasa Asing, terutama bahasa Inggris. Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional semakin nyata dibutuhkan.

Para pencari kerja, karyawan, siswa sekolah maupun mahasiswa saat ini dituntut bukan hanya bisa berbahasa Inggris secara pasif tetapi juga aktif berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Para siswa / mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 maupun ingin menimba ilmu ke Negara lain seperti Amerika, Australia, Eropa dll pun juga wajib hukumnya untuk menguasai bahasa Inggris.

Kebutuhan akan penguasaan bahasa Inggris yang tinggi di khususnya di Indonesia merupakan peluang besar bagi pengusaha jasa pendidikan bahasa Inggris.

Sekalipun peluangnya sangat besar, akan tetapi untuk memulai bisnis ini diperlukan ketrampilan khusus, pengalaman dan kemampuan manajemen serta marketing khususnya dalam bidang pendidikan.

Untuk memudahkan proses memulai bisnis pendidikan bagi Anda yang tertarik untuk memulai bisnis di bidang pendidikan, maka Smart English  menawarkan sistem kerja sama franchise yang saling menguntungkan. Dengan pengalaman dan sistem yang telah teruji, Smart English menawarkan langkah cerdas memulai bisnis Franchise Smart English dengan berbagai kemudahan dan keunggulan antara lain :
1. Dapat dimiliki oleh siapa saja tanpa latar belakang pendidikan maupun usaha sebelumnya
2. Support rekruitmen dan pelatihan bagi karyawan dan tenaga pengajar
3. Bebas royalty selama 1 tahun pertama, sehingga pemilik dapat segera memperoleh profit. Bisnis pendidikan adalah bisnis yang terus berkembang dan berprospek cerah
4.Sistem belajar yang smart, fun, dan aktif yang telah terbukti selama 7 tahun.
5.Mendapatkan dukungan total dari sistem akademik, manajemen, dan pemasaran dari kantor Pusat
6.Investasi yang terjangkau dan proyeksi keuntungan yang sangat menarik (BEP kurang dari 2 tahun)

Smart English hadir untuk memberikan pelayanan terbaik dalam membantu penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan dunia. Dengan menggabungkan konsep Edutainment dan Student Center, maka belajar di Smart English menjadi sangat mudah, mengasyikkan dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Hingga tahun ke-7 ini, Smart English telah melayani lebih dari 25.000 peserta kursus / les dengan berbagai level yang berasal dari pelajar, mahasiswa, pegawai dan masyarakat umum di 14 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.


Saat ini Smart English membuka kesempatan bagi Anda yang ingin memulai bisnis pendidikan melalui sistem waralaba/franchise tanpa perlu repot, pusing, dan langsung mendapatkan profit.

Hanya dengan biaya Rp. 90 juta, Anda dapat memiliki outlet Smart English di kota Anda dengan sistem franchise. Pay back Period sekitar 2 tahun. Dapatkan diskon  20% untuk pembeli franchise periode 15 Juli – 15 Agustus 2011. Bebas royalty fee untuk 1 tahun pertama dan  booking fee hanya 10%.

Bagi yang berminat untuk menjadi franchisee Smart English dapat menghubungi Bp.Bambang (08567899503 /0274-8249407). Silakan kunjungi juga website kami di www.smartenglish.co.id

Franchise : “Cara Mudah Mencapai Sukses Dalam Bisnis”

Tuesday, 26 July 2011 02:19

successPada sebuah seminar kewirausahaan yang saya isi, setelah saya menjelaskan berbagai keuntungan menjadi pengusaha seperti misalnya kebebasan waktu, kebebasan berekspresi dan yang terutama kebebasan finansial, saya kemudian bertanya siapa yang ingin menjadi pengusaha? Hampir semua peserta tertarik untuk menjadi pengusaha. Pertanyaan selanjutnya yang saya ajukan adalah “usaha apa yang ingin dimulai” ? Ternyata hanya sedikit orang yang mempunyai pandangan tentang usaha yang ingin dimulai.
Kesimpulan saya menunjukkan bahwa banyak orang yang ingin memulai sebuah usaha tetapi karena tidak mempunyai latar belakang sebagai wirausaha, pada akhirnya keinginan untuk memulai sebuah usaha berlalu begitu saja.
            Mari kita lihat merek-merek yang dapat kita temui dengan mudah dimana-mana, seperti misalnya McD, KFC, ataupun Pizza Hut. Merek-merek ini adalah merek makanan cepat saji yang berasal dari luar negeri yang banyak kita jumpai di pusat-pusat belanja di tanah air, dan untuk di wilayah Indonesia, merek-merek tersebut dimiliki oleh orang Indonesia, bagaimana bisa ?         
            Ternyata, merek tersebut telah dikembangkan dengan sistem Franchise, dimana pemilik mereknya telah memberikan hak kepada partner bisnisnya di wilayah tertentu, yaitu Indonesia untuk membuka usaha sejenis dengan merek dan standar operasional yang sama dengan merek yang  difranchisekan. Dengan system franchise maka calon pengusaha/partner usaha memperoleh berbagai kemudahan dalam memulai usaha barunya, antara lain :
  • Mengurangi Resiko Kegagalan.
Bisnis yang difranchisekan biasanya telah teruji baik produknya maupun sistemnya, sehingga dengan bekerja sama dengan merek yang telah difranchisekan maka calon pengusaha tidak perlu melakukan trial-error dalam usaha, karena segala sistem operasional maupun produknya telah disiapkan oleh pihak franchisor.
 
  • Hemat Waktu dan Biaya
Calon pengusaha tidak perlu mempersiapkan sendiri produk yang akan dijual, misalnya ingin berjualan makanan cepat saji tidak perlu latihan memasak, mencoba berbagai resep dan adonan, atau ingin buka jasa pendidikan, tidak perlu membuat materi pelajaran sendiri, karena telah disiapkan oleh pihak franchisor, sehingga tidak perlu menghabiskan banyak dana untuk trial, error produk dan jasa.
 
  • Bisnis Bisa Cepat Beroperasi
Dengan dibantu oleh pihak Franchisor maka bisnis yang diinginkan dapat segera di-set-up, dan cepat beroperasi dan memperoleh keuntungan.
 
  • Mendapatkan Support dari Franchisor
Pihak franchisor akan membantu mulai dari pemilihan lokasi yang cocok untuk usaha, pemilihan tata ruang dan desain lokasi tempat usaha. Selain itu untuk masalah promosi, rekruitmen hingga pelatihan bagi karyawan juga mendapatkan bantuan dari pihak franchisor. Demikian juga supplay produk dan jasa serta sistem operasi yang diperlukan dalam usaha, akan mendapatkan support dari pihak franchisor.
 
Sistem franchise yang 3 tahun terakhir ini cukup marak berkembang di Indonesia dengan berbagai pilihan produk dan jasa, seperti bisnis kuliner, pendidikan, automotive, hiburan dll membuat semakin mudah dan aman bagi setiap calon pengusaha untuk memulai usaha sesuai dengan bidang yang diinginkan.
Untuk memulainyapun para calon pengusaha tinggal memilih bisnis yang diinginkan dan menghubungi pemilik merek tersebut. Calon pengusaha franchise (franchisee) kemudian akan mendapatkan informasi tentang usaha yang akan dijalankan. Apabila terjadi kecocokan maka dapat dilakukan perjanjian bisnis antara calon pengusaha (franchisee) dengan pemilik merek (franchisor) dalam bentuk MOU dengan membayar sejumlah dana yaitu franchise fee untuk persiapan pembukaan bisnis dan memperoleh hak penggunaan merek dagang dalam waktu tertentu dan membayar royalty perbulan yang besarnya sesuai dengan ketentuan oleh pemilik merek.
Selanjutnya adalah persiapan pembukaan usaha, dimana pada tahap ini, pihak pemilik merek (franchisor) akan membantu mempersiapkan usaha yang akan dibuka bersama, mulai dari survey lokasi, rekruitmen dan training karyawan, desain tempat usaha, marketing, dan layanan produk dan jasa.
Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan dengan pola bisnis Franchise, maka para calon pengusaha dapat lebih mudah menjadi pengusaha tanpa harus repot mengurusi bisnisnya sendiri dan tidak diperlukan latar belakang usaha tertentu dan yang menarik adalah calon pengusaha tidak harus meluangkan 100% waktunya pada bisnis barunya karena didukung oleh sistem operasional oleh franchisor. Sistem Franchise juga memungkinkan seseorang dapat memiliki berbagai bisnis yang berbeda di tempat yang berbeda.

Kecerdasan Emosional Entrepreneur

Tuesday, 31 March 2009 07:30
Kecerdasan Emosional Entrepreneur
EQ Head Mengedepankan kecerdasan emosi kita dalam bisnis itu adalah hal yang mutlak. MENGAPA kecerdasan emosional seorang entrepreneur juga saya ungkap dalam buku ini? Itu karena, saya sendiri ikut merasakan, bahwa kesuksesan bisnis memang sangat berkait langsung dengan kecerdasan emosi entrepreneur. Maka, tak ada salahnya kalau faktor kecerdasan emosional itu perlu kita kedepankan. Bahkan, itu mutlak kita miliki. Hal itu, saya pikir juga merupakan langkah tepat di dalam setiap kita ingin meraih keberhasilan bisnis, juga dalam kehidupan sehari-hari.
Orang yang pertama mengenalkan kecerdasan emosional adalah Daniel Goleman. GolemanDalam bukunya “Emotional Intelligence” atau EQ, ia mengungkapkan, bahwa ada 5 wilayah kecerdasan emosi yaitu: mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenal emosi orang lain, dan membina hubungan. Artinya, jika kita memang mampu memahami, dan melaksanakan kelima wilayah utama kecerdasan emosi tersebut, maka semua perjalanan bisnis apapun yang kita lakukan akan lebih berpeluang berjalan mulus.
Harus dipahami, bahwa ada perbedaan antara kecerdasan emosional dengan kecerdasan intelektual (IQ). Goleman mengungkapkan, bahwa kecerdasan intelektual itu sesungguhnya merupakan keturunan seseorang yang tidak dapat dirubah, karena pembawaan sejak lahir. Sedangkan kecerdasan emosional tidak demikian. Saya sendiri sependapat dengan Goleman, yang akhirnya menyimpulkan, bahwa kecerdasan emosional adalah merupakan jembatan antara apa yang kita ketahui, dan apa yang kita lakukan. Dengan semakin tinggi kecerdasan emosional, kita akan semakin terampil melakukan apa pun yang kita ketahui benar.

Saya yakin, entrepreneur yang memiliki kecerdasan emosional optimal, akanl ebih berpeluang mencapai puncak keberhasilannya. Sosok semacam ini sangat kita perlukan guna membangun masyarakat entrepreneur Indonesia. Entrepreneur yang memiliki kecerdasan emosional optimal, akan tetap menganggap, bahwa krisis itu adalah sebuah peluang.
Itulah sebabnya mengapa entrepreneur itu harus tetap jeli dalam memanfaatkan emosinya. Sebaliknya, jika seseorang secara intelektual cerdas, kerap kali justru bukanlah seorang entrepreneur yang berhasil dalam bisnis dan kehidupan pribadinya. Dia harus yakin, bahwa di dalam dunia bisnis saat ini maupun di masa mendatang, kecerdasan emosional akan lebih tetap berperan.

Maka dengan memiliki kecerdasan emosional yang optimal, akan lebih bisa mentransformasikan situasi sulit. Bahkan, kita juga semakin peka akan adanya peluang entrepreneur dalam situasi apapun. Kalau kita memiliki kecerdasan emosional yang optimal, saya yakin akan mampu mengatasi berbagai konflik.
Orang yang benar-benar mengoptimalkan EQ, akan lebih jeli dalam melihat sebuah peluang. Ia akan lebih cekatan dalam bertindak dan lebih punya inisiatif. Atau, ia pun akan lebih siap dalam melakukan negosiasi bisnis. Lebih mampu melakukan langkah strategi bisnisnya, memiliki kepekaan, daya cipta, dan komitmen yang tinggi. Bahkan, ada pakar yang mengungkapkan, bahwa keberhasilan seseorang dalam bidang bisnis, 80% ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya.

Banyak orang yang sukses menjadi entrepreneur meski nilai akademisnya sedang-sedang saja. Hal ini disebabkan, mereka yang lulus dengan nilai sedang itu sebagian besar memiliki kecerdasan emosional optimal. Lantaran kecerdasan emosional optimal yang inilah yang justru mendorongnya untuk menjadi entrepreneur yang kreatif. Contohnya adalah Bill Gates, seorang super milyader di Amerika Serikat. Dia adalah pemilik perusahaan perangkat lunak Mirosoft. Saat ini Bill Gates kuliah di Harvard Bussines School, ia merasa tidak mendapat pengetahuan apa-apa. Akhirnya ia putuskan berhenti kuliah. Namun meskipun drop-out dari Harvard, Bill dikenal sebagai penyumbang dana terbesar bagi univeritasnya.
Hal yang sama juga terjadi pada Steven K. Scout. saat ini dia dikenal sebagai milyarder di Amerika Serikat. Ketika masih di sekolah, Steven tidak pintar. Dia tidak populer di sekolahnya. Namun, sekarang Steven berhasil menjadi pengusaha yang bergerak di bidang bisnis pemasaran nomor satu di Amerika Serikat.
Saya yakin, entrepreneur itu memang perlu kecerdasan emosional yang optimal. Nilai akademis saat studi tidak harus tinggi. Sulit bagi seseorang untuk menjadi entrepreneur, meski memiliki kecerdasan intelektual tinggi, tetapi kecerdasan emosionalnya rendah. Lantas, apakah Anda ingin memiliki kecerdasan emosional yang optimal? Itu bisa dipelajari, dilatih, dan bisa dikembangkan. Karena semuanya itu proses yang membutuhkan waktu, ketekunan, dan semangat tinggi. Berani mencoba.

Otak Kanan Itu Semakin Penting

Friday, 03 April 2009 02:47
"Sudah saatnya kita mengandalkan otak kanan, meski sebelumnya guru kita lebih
banyak mengajarkan otak kiri."
Purdi E. Chandra.

Otak kanan memang makin menjadi penting saat ini. Bukan karena kita “sirik”dengan otak kiri, tetapi karena betul-betul dirasakan kebutuhannya, khususnya oleh entrepreneur. Terlebih lagi, karena dalam ilmu manajemen yang selama ini ada, yang lebih didasarkan logika dan rasional, ternyata tidak selamanya mampu mengatasi setiap persoalan bisnis.

brainDan, mengapa harus otak kanan ? Oleh karena, di otak kanan itulah sarat dengan hal-hal yang sifatnya eksperimental, divergen, bukan penilaian, metaforilal, subyektif, non verbal, intuitif, diffuse, holistik, dan reseptif. Sementara kita sadar, bahwa otak kiri cenderung bersikap obyektif , presisi, aktif, logikal , verbal, penilaian, linier, konvergen, dan numerikal. Padahal, jika kita mampu memberdayakan otak kanan, maka ada kecendrungan akan mampu menyelesaikan setiap masalah dalam bisnis, bila dibandingkan kalau kita dengan hanya mengandalkan otak kiri.

Dengan kita mampu memberdayakan otak kanan, maka setiap memecahkan persoalan dalam bisnis, kita pun akan dapat melihat secara keseluruhan, dan kemudian memecahkan berdasarkan firasat, dugaan, atau intuisi. Intuisi ini adalah kemampuan untuk menerima atau menyadari informasi yang tidak dapat diterima oleh kelima indera kita.

Tampaknya ada yang khawatir dengan intuisi, karena mereka pikir intuisi bisa menghalangi pemikiran rasional. Sebenarnya intuisi justru berdasarkan pada pemikiran yang rasional dan tidak dapat berfungsi tanpanya. Saya sependapat dengan Robert Bernstrin, yang mengatakan, bahwa hanya intuisi yang dapat melindungi kita dari orang-orang paling berbahaya, orang-orang yang tidak mampu bekerja dan cuma pinter ngomong.

Lalu? Seorang entrepreneur yang mampu memberdayakan otak kanannya, biasanya juga cenderung memilih manajemen yang berstruktur luwes dan spontan, serta pada struktur yang sifatnya sama.
Lain halnya bila dia lebih mengandalkan otak kirinya. Maka ia akan lebih cenderung pada struktur hirarki dan pada kondisi manajemen yang berstruktur. Mengandalkan otak kiri juga cenderung membuat penyelesaian masalah dipecahkan satu per satu berdasarkan logika.

Kenyataan ini pernah kita alami saat studi dulu. Kita lebih banyak diajarkan atau dilatih oleh guru kita untuk selalu berpikir dengan otak kiri. Misalnya kita selalu dituntut berpikiran logis, analistik, dan berdasarkan pemikiran edukatif. Padahal hal tersebut ada kelemahannya. Kita tak dapat menggunakannya, bila data tak tersedia, data tak lengkap, atau sukar diperoleh data.

Maka, jika kita termasuk kategori otak kiri dan tidak melakukan upaya tertentu untuk memasukkan beberapa aktivitas otak kanan, maka akan menimbulkan ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan tersebut dapat mengakibatkan kesehatan mental dan fisik yang buruk, seperti mudah stres, mudah putus asa atau patah semangat.

Tapi dengan kita mampu memberdayakan otak kanan kita, maka kita juga akan lebih intuitif dalam menghadapi setiap masalah yang muncul. Tentu saja hal tersebut berbeda dengan mereka yang hanya mengandalkan otak kiri, yang cenderung bersifat analistis. Yang jelas, kedua belahan otak tersebut sama pentingnya. Jika kita mampu memanfaatkan kedua otak ini, maka kita akan cenderung “seimbang” dalam setiap aspek kehidupan, termasuk urusan bisnis.

Bagaimana kalau kenyataannya dalam bisnis kita sehari-hari, kerap kali masih diharuskan untuk memutuskan, memilih, dan mengambil keputusan, dari beberapa alternatif yang faktor-faktornya tidak diketahui? Tentu saja, jika proses berpikir kita masih dominan ke otak kiri cenderung bersifat logis, linier, dan rasional, tentu kita menyodorkan berpuluh-puluh pilihan.

Sebaliknya jika proses berpikir kita dominan ke otak kanan yang cenderung acak, tidak teratur, dan intuitif, saya yakin kita dengan antusias yang kuat akan memilih satu pilihan dan berhasil. Maka, tak ada salahnya jika kita mau memberdayakan otak kanan.

Kecerdasan Financial vs Kecerdasan Intelektul


Eko Smart EnglishMasih ingatkah anda akan nasehat popular yang dulu sering dinasehatkan oleh orang tua atau guru di sekolah? “Belajarlah yang pintar nak biar nanti kamu gampang cari pekerjaan supaya bisa hidup enak dan sukses” Sebagian besar kita masih beranggapan bahwa nasihat itu benar dan penting. Bagaimana dengan anda?
Sayapun pada awalnya berpendapat sama, tapi perjalanan dan pengalaman saya membuktikan bahwa sebagian besar orang yang pintar (cerdas secara intelektual) malah bekerja pada orang yang bodoh (tidak cerdas secara intelektual, tetapi cerdas secara financial). Saya sendiri pernah menyelesaikan pendidikan S2 di UGM, tapi pada awal kerja saya, malah bekerja pada perusahaan yang direkturnya malah hanya lulusan SMU, dan semua karyawannya adalah sarjana kecuali OB. nah lho… benar kan kata saya.

Sejak kecil kita seringkali ditanamkan untuk belajar dan berprestasi di sekolah, sehingga dalam mindset kita secara tidak sadar akan tertanam pemikiran, bahwa kalo mau sukses maka harus memiliki pendidikan yang tinggi, sehingga selepas sekolah atau kuliah akan mencari pekerjaan sesuai dengan ijasah kita, seperti yang saya alami dulu. Ternyata akhirnya bekerja pada perusahaan yang pemiliknya Cuma lulusan SMA tapi kok bisa lebih kaya dari saya ya….

Ternyata cerdas intelektual itu bukan jaminan untuk membawa kita mencapai kesuksesan dan kekayaan, bukankah seorang guru atau dosen adalah orang yang memiliki kecerdasan intelektual, akan tetapi banyak kita temukan para kaum pendidik yang hidupnya pas-pasan, Banyak lagi para sarjana yang nganggur ataupun terpaksa bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan background pendidikannya dan jauh dari kesuksesan.

Kecerdasan intelektual cenderung membuat otak kiri sangat aktif sehingga lebih memilih cara aman dalam hidup sehingga setiap bulan pasti terima gajian, yaitu jadi pegawai. Sebaliknya orang yang bodoh (tidak cerdas secara intelektual) akhirnya mengambil jalan jadi pengusaha (karena melamar jadi pegawai tidak diterima), dan tidak jarang menjadi pengusaha yang sukses, dan akhirnya malah merekrut pegawai yang lebih pintar (sarjana). Bahkan pada akhirnya bisnisnya malah berkembang pesat.

Saya memutuskan untuk tidak terjebak dalam dunia kerja yang terlalu lama, maka setelah 6 bulan bekerja di perusahaan orang saya putuskan untuk “memajukan diri” (berhenti jadi pegawai dan menjadi pengusaha) walaupun pada saat itu belum tahu harus usaha apa. Yang penting berani “Action” untuk “memajukan diri”.

Ternyata tidak salah keputusan saya, setelah beberapa kali gagal dalam usaha, akhirnya kursus bahasa Inggris SMART ENGLISH yang dulunya hanya 1 outlet sekarang bisa berkembang menjadi 21 outlet di seluruh Indonesia. Dengan metode “Student Active Center” yang unik bisnis ini bahkan telah dapat dimiliki oleh siapa saja dengan system franchise.

            Apabila kecerdasan financial kita diasah maka secara tidak langsung akan mengasah intelektual kita juga, yang pada akhirnya dapat melakukan apapun yang kita inginkan tanpa harus menguasai masalahnya secara detail. Saya pernah memiliki perusahaan percetakaan, biro iklan, dan tabloid, dan juga bisnis telekomunikasi yang tersebar di beberapa kota, akan tetapi sampai semua bisnisnya tutup dan bangkrut saya sama sekali tidak bisa dan tidak tahu proses cetak-mencetak, desain, apalagi menghandle perusahaan telekomunikasi saya. Untuk setiap pekerjaan yang memerlukan keahliannya, kita dapat bekerja sama atau mempekerjakan staf yang menguasai bidang tertentu, sehingga bisnisnya jalan, yang punya bisa jalan-jalan. Saya yakin anda pasti bisa. Saya pernah melakukannya. Pasti Bisa !!!

Berani Sukses

"Seberapa besar rejeki yang kita inginkan, itu sama dengan seberapa besar kita
berani mengambil resiko.
" Purdi E. Chandra.

SuksesHANYA segelintir entrepreneur yang dapat mencapai tangga sukses teratas tanpa perjuangan dan pengorbanan. Resepnya, antara lain, kalau melakukan kesalahan, mereka melupakannya dan terus bekerja, hingga akhirnya mencapai kesuksesan. Menurut saya, kita sebagai entrepreneur harus selalu berani berpikiran sukses dan berani mengembangkan kepercayaan diri.
 
Harus selalu ingat, bahwa kita adalah orang yang berpotensi dalam bisnis, yang setiap saat harus selalu melipatgandakan kepercayaan diri, dan bisa menghilangkan penyakit exucitis, penyakit mencari alasan. Apakah itu alasan yang berkaitan dengan kesehatan, intelejensia atau kecerdasan, usia, dan nasib. Kita pun juga harus berani merubah kegagalan menjadi kemenangan atau kesuksesan.
 
Untuk sebuah kesuksesan, dibutuhkan keberanian secara terus menerus untuk mempelajari kemunduran bisnis kita menuju kesuksesan. Dalam bisnis, sangat wajar kalau kita belajar dari kesuksesan yang dicapai pesaing kita. Namun yang penting, bagaimana kita harus menghindari kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat oleh pesaing kita itu. Kita juga harus selalu siap menghadapi perubahan-perubahan yang selalu ada dalam kehidupan bisnis.
 
Upaya-upaya mencipta ide-ide terbaik yang bersifat competitive advantage saya kira menjadi sangat penting, dan kalau perlu kita gabung-gabungkan ide-ide terbaik dari para pesaing kita.
 
Dengan kata lain, sebagai seorang entrepreneur, kita pun harus senantiasa setiap saat selalu membuka mata dan telinga terhadap suatu kesempatan atau peluang. Sebab, disamping faktor rejeki, maka peluang itu juga menyangkut dengan faktor nasib kita. Bila kita mampu melakukan hal itu, tidak mustahil kesuksesan akan dapat kita raih.
 
Saya yakin, kita semua pasti mendambakan kesuksesan. Ingin memperoleh yang sebaik-baiknya dari perjalanan hidupnya. Tidak ada orang yang bisa mendapatkan kenikmatan dari hidup yang terus merangkak-rangkak, kehidupan yang setengah-setengah. Sukses berarti banyak hal yang mengagumkan dan positif. Sukses berarti kesejahteraan pribadi: rumah bagus, keamanan di bidang keuangan dan kesempatan maju yang maksimal, serta berguna bagi masyarakat. Sukses juga berarti memperoleh kehormatan, kepemimpinan, dan disegani.
 
Dengan demikin sukses berarti self respect, merasa terhormat, terus menerus merasa bahagia, dan merasakan kepuasan dari kehidupannya. Itu artinya, kita berhasil berbuat lebih banyak yang bermanfaat. Dengan kata lain, sukses berarti menang! Namun sayangnya, di era globalisasi seperti sekarang ini, tidak semua entrepreneur berani menyebutkan, bahwa dirinya telah mencapai kesuksesan.
 
Sebaliknya, saya justru berpendapat bahwa kita sebagai entrepreneur harus berani menyatakan dirinya sukses. Karena dengan keberanian kita menyatakan sukses, akan membangkitkan kepercayaan diri. Dengan kepercayaan diri yang besar itu, kita akan lebih bersemangat untuk meraih kesuksesan. Dan saya tetap yakin, betapa pun sibuknya entrepreneur-entrepreneur yang sukses, ia akan tetap siap membantu teman-teman yang memerlukannya. Dan, mereka semakin percaya pada Tuhan sebagai suatu kekuatan
besar.

Berani Gagal

"Hanya orang yang berani gagal total, akan meraih keberhasilan total." John F Kennedy

PERNYATAAN John. F. Kennedy ini saya yakini kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tetapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup saya. Gagal total itulah awal karier bisnis saya.
Pada akhir 1981, saya merasa tak puas dengan pola kuliah yang membosankan. Saya nekad meninggalkan kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal dalam mengejar cita-cita lain. Di tahun 1982, saya kemudian mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.
Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Dari awalnya yang sangat sepi peminat - hanya 2 orang - sampai akhirnya peminatnya membludak hingga Primagama dapat membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia.
Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses dari pada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.
Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan memuji Anda. Jangan berharap pula orang di sekitar anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal.
Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap juga semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda. Jangan berharap Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara. Jangan berharap bank akan memberikan pinjaman selanjutnya.
Mengapa saya melukiskan gambaran yang begitu buruk bagi seorang entrepreneur yang gagal? Begitulah masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal. Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua.
Menurut pengalaman saya, apabila orang gagal, maka tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Dan justru kita harus lebih tertantang lagi dengan usaha yang sedang kita jalani yang mengalami kegagalan itu. Saya sendiri lebih suka mempergunakan kegagalan atau pengalaman negatif itu untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali.
Sudah tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia kerja, saat krisis ekonomi kian merebak dan bertambah. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis, seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.
Bagi seorang entrepreneur, sebaiknya jangan sampai terpuruk dengan kondisi dan suasana seperti itu. Kita harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja hikmahnya (kejadian dibalik itu). Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah, tatkala lemah. Menjadi berani ketika kita takut. Itu sebabnya mengapa saya juga sepakat dengan pendapat Richard Gere, aktor terkemuka Hollywood, yang mengatakan bahwa kegagalan itu penting bagi karier siapapun.
Mengapa demikian? Karena selama ini banyak orang membuat kesalahan sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan.
Ada beberapa sebab dari kegagalan itu sendiri. Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu “melankolis” dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.
Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Bila kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kia bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sebagai sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali.

Berani Mencoba

"Seandainya kita berani mencoba dan kita lebih tekun dan ulet, maka pasti yang namanya kegagalan itu tak akan pernah ada." Purdi E. Chandra.
 
ORANG bukannya gagal, tetapi berhenti mencoba. Ungkapan ini sengaja saya kedepankan. Mengapa? Karena sesungguhnya seseorang untuk dapat meraih kesuksesan dalam karier atau bisnisnya, maka orang itu harus punya keberanian mencoba.
 
Seorang entrepreneur - dalam situasi sesulit apa pun - akan semakin tertantang untuk tidak berhenti mencoba. Dengan kata lain “berani mencoba” dan orang yang selalu berani mencoba itulah yang pada akhirnya justru akan meraih kemenangan atau kesuksesan.

Dalam bisnis, tampaknya kita perlu mengedepankan sikap seperti itu, dan saya kira tidak ada salahnya bila kita bersikap positif semacam itu. Berdasar pengalaman, saya melihat, bahwa seorang entrepreneur adalah orang yang tidak mudah percaya sebelum mencobanya. Meskipun ketika mencobanya, keyakinan kita hampir padam karena pasti akan diterpa ‘angin”. Dan ternyata, terpaan ‘angin” tersebut justru dapat membakar semangat kewirausahaan (the spirit of entrepreneurship) kita. Nalar bisnis (sense of business) kita semakin optimal, dan pada akhirnya, sebagai entrepreneur, kita semakin yakin akan kesuksesan yang akan kita raih.

Tegasnya, keberhasilan dalam bisnis memang sangat ditentukan oleh semangat kewirausahaan kita yang tinggi. Dengan demikian sikap mencoba dan mencoba terus menerus itu akan dilakukannya. Pada akhirnya dengan sikap kita yang “berani mencoba’ itu, akan membuat kita tidak akan mudah terpuruk dengan keputus-asaan. Apalagi sampai menghancurkan hidup dan bisnis yang telah kita rintis lama.

Selain itu, pikiran kita juga harus tetap diformulasikan ke arah positif. Bukan sebaliknya, suka berpikir negatif, apalagi sampai putus asa. Sikap semacam ini harus kita buang jauh-jauh.

Jika pikiran kita tidak melihat hasil akhir, bahwa bisnis kita bakal sukses, maka tentu kita akan kehilangan semangat kewirausahaan. Sebab, dengan kita memiliki bayangan kesuksesan di masa depan, tentu akan dapat memotivasi kita untuk bekerja lebih giat. Bahkan, menjadikan diri kita bersikap tidak mudah putus asa.

Dalam bisnis modern, kita tidak akan dapat hidup tanpa kita mempunyai sikap keberanian mencoba. Kita lihat saja, masih banyak orang yang gagal dalam usahanya, yang akhirnya putus asa tanpa mampu lagi berbuat sesuatu, tanpa berani mencoba lagi. Sikap semacam itu jelas akan merugikan kita, bukan saja dari aspek materi atau finansial saja, tapi juga dari aspek psikologis. Oleh karena itu, walaupun di masa krisis, sebaiknya kita harus tetap menjadi entrepreneur yang memiliki semangat kewirausahaan yang tinggi.

Kita juga harus punya keyakinan, bahwa sesungguhnya seseorang itu tidak ada yang gagal dalam bisnisnya. Mereka yang gagal hanyalah karena dia berhenti mencoba, berhenti berusaha. Seandainya kita berani mencoba, dan kita lebih tekun dan ulet, maka pasti yang namanya kegagalan itu tidak akan pernah ada. Artinya, dengan kita mau berjerih payah dalam berusaha, tentu kita akan menuai keberhasilan.

Untuk itu, kita harus berani mencoba. Sebab, tidak satu pun di dunia ini, termasuk di dalam dunia entrepreneur yang dapat mengantikan keberanian mencoba. Dengan bakat bisnis? Tidak bisa. Sebab orang berbakat yang tidak berhasil meraih sukses banyak kita jumpai. Bagaimana dengan kejeniusan seseorang? Juga tidak. Sebab kejeniusan yang hanya dipendam saja, itu sama saja dengan omong-kosong. Tergantung pendidikannya juga tidak. Sebab di dunia ini sudah penuh dengan pengangguran yang berijazah sarjana. Dan ternyata, hanya dengan keberanian mencoba dan mencoba itulah yang dapat menentukan kesuksesan bisnis kita.

Berani Merantau

"Kita itu memang harus, punya keberanian merantau. Sebab, dengan keberanian
merantau, kita akan lebih bisa percaya diri dan mandiri.
" Purdi E. Chandra.

BANYAK entrepreneur yang sukses karena ia merantau. Orang Tegal sukses dengan warteg-nya di Jakarta. Begitu juga orang Wonogiri sukses menekuni usaha sebagai penjual bakso. Orang Wonosari sukses sebagai penjual bakmi dan minuman. Sementara orang Padang, sukses dengan bisnis masakan Padang-nya.
Bahkan, orang Cina pun banyak yang sukses ketika dia merantau keluar negeri. Dan, tak sedikit pula, orang Jawa yang sukses sebagai transmigran di Sumatera. Juga banyak orang dari luar Jawa yang sukses bisnisnya ketika merantau di Yogyakarta. Tapi banyak juga orang Yogya yang sukses menjadi pengusaha atau merintis kariernya, ketika merantau di Jakarta. Hal itu wajar terjadi, karena orang-orang tersebut memang punya
keberanian merantau.
Sebenarnya, apa yang diungkapkan di atas hanyalah sekedar contoh, bahwa orang
bisa sukses sebagai entrepreneur, kalau orang tersebut memiliki keberanian merantau.
Mengapa demikian?
Menurut saya, keberanian merantau itu perlu kita miliki, karena dengan merantau berarti kita berani meninggalkan lingkungan keluarga. Sebab, ketika kita berada di lingkungan keluarga, meskipun kita sudah tumbuh besar atau dewasa, namun tetap dianggap sebagai anak kecil.
Sehingga, hal itu akan membuat kita tergantung dan tidak mandiri. Akibat dari itu sangat jelas, kita mudah patah semangat atau putus asa. Tidak berani menghadapi tantangan atau risiko bisnis. Kita pun akan mudah tergantung pada orang lain.
Tapi beda halnya. kalau kita berani merantau. Hal itu berarti kita siap menjadi “manusia baru”. Kita harus siap menghadapi lingkungan baru, yang barangkali tak sedikit tantangan yang harus dihadapi. Dan, jika saat dulu kita belum tahu apa sebenarnya kelemahan kita, maka dengan merantau hal tersebut bisa diketahui. sedikit demi sedikit kelemahan tersebut akan kita perbaiki di tanah perantauan. Itulah sebabnya mengapa saya yakin, keberanian merantau yang membuat kita punya jiwa kemandirian itu, akan membuat kita lebih percaya diri dalam setiap langkah dalam bisnis maupun karier.
Jadi singkatnya, merantau itu akan membuat kita berjiwa “tahan banting”. Katakanlah, kalau usaha kita ternyata jatuh dan gagal, kita tidak terlalu malu, toh itu terjadi di kota lain. Dengan kata lain, berusaha di kota lain akan mengurangi beban berat, bila dibandingkan dengan merintis bisnis di kota kita sendiri.
Selain itu, keberanian merantau ke daerah lain, akan membuat kita dapat menyelesaikan persoalan sendiri. Bahkan, kita akan merasa tabu terhadap bantuan orang lain. Kita ada rasa untuk tidak mau punya hutang budi pada orang lain.
Oleh karena itulah, saya berpendapat, bahwa sesungguhnya ke-mandirian itu adalah semangat paling dasar dari kita untuk bisa meraih kesuksesan. Dan, alangkah baiknya jika sikap mandiri semacam itu bisa kita bentuk sejak kita masih sekolah.
Maka, jika kita ingin menjadi entrepreneur yang mampu meraih sukses dan “tahan banting”, salah satu kuncinya adalah kemandirian itu sendiri. Dan, kemandirian akan muncul jika kita berani merantau. Buktikan sendiri.

Peluang Bisnis Di Sekitar

"Kita harus ada keberanian untuk jatuh - bangun." Purdi E. Chandra

Ada sebuah pertanyaan menarik dari seorang peserta “Entrepreneur University”
angkatan ketiga saat mengikuti kuliah perdana pekan lalu. “Saya begitu banyak sekali ide
bisnis, tapi nyatanya tak ada satu pun ide bisnis itu terealisir. Akibabnya, saya hanya
sekadar kaya ide, tapi bisnis tak ada?”, tanya peserta yang kebetulan ibu-rumah tangga
itu.

Sebenarnya di sekitar kita ini banyak sekali macam bisnis yang bisa diraih. Hanya
saja, kita harus betul-betul memahami kebutuhan masyarakat konsumen. Sebagai contoh,
di beberapa kota di Amerika Serikat, sudah banyak bisnis yang dikembangkan dari ideide
sederhana sep€rti bisnis membangunkan orang tidur (morning call). Aneh, tapi itu
nyata. Tentu, pengguna jasa ini harus menjadi member terlebih dahulu dengan membayar
annual fee dalam jumlah tertentu. Ada juga bisnis yang di sini masih langka dan belum
memasyarakat, yakni bisnis menyewakan pakaian dan perlengkapan bayi.

Barangkali sekarang ini belum banyak yang kita temukan. Namun, saya yakin jika
kita kreatif, akan mampu melihat peluang bisnis sebanyak-banyaknya dan mampu
menangkap satu atau dua di antaranya. Pendek kata, peluang bisnis tidak akan pernah ada
habisnya, selama minat manusia masih menjalankan hajat hidupnya di dunia ini.

Dimana saja sebenarnya peluang bisnis disekitar kita? Misalnya, Saat ldul Fitri
yang membawa tradisi kirim mengirim parcel dan buah tangan lainnya, walau itu sifatnya
musiman, namun saya melihat itu adalah peluang bisnis. Awalnya musiman, tetapi bila
dikembangkan dan ditekuni dapat dijadikan bisnis permanen bersama berkembangnya
kehidupan sosial masyarakat.

Keterampilan tertentu juga bisa dijadikan peluang bisnis. Terampil dibidang
elektronika misalnya, bisa membuka bisnis reparasi dan maintenance alat-alat elektronik.
Ahli di bidang komputer bisa membuka bisnis software dan hardware. Terampil di mesin,
bisa memulai bisnis dari servis motor atau mobil. Atau barangkali, punya kreativitas yang
berciri khas dan unik, kita bisa merintis bisnis kreatif, seperti Kaos Dagadu itu.

Bahwa produk ini akhirnya jadi souvenir khas yogya, itu sebagai bukti bahwa
kreativitas bisa jadi peluang bisnis yang menarik untuk digeluti. Maka, tidak ada
salahnya, jika kita juga mencoba mengembangkan kreativitas yang tidak lazim dan unik,
agar bisa dijadikan peluang bisnis.

Tingkat pendidikan kita juga bisa menjadi peluang bisnis dengan pengembangan
profesi. Misal sarjana matematika membuka kursus matematika. Sarjana Sastra lnggris
memulai usaha dengan membuka kursus bahasa lnggris. Peluang bisnis juga ada
dilingkungan keluarga. Bisa dimulai dengan berbisnis makanan atau katering dan
keluarga bisa diajak serta, dan bisnis ini bisa dikelola dari rumah.

Peluang itu juga terdapat di lingkungan pekerjaan, organisasi dan tetangga. Tentu
saja, di lingkungan itu kita banyak teman. Maka, jika punya produk tertentu, bisa saja kita
jual produk tersebut kepada mereka. Bahkan relasi kita pun bisa juga jadi peluang bisnis.
Misalnya, bisa pinjam uang pada relasi untuk modal usaha. Produk yang dihasilkan,
selain bisa dijual pada orang lain, juga pada relasi kita itu. Dengan begitu, kita tak hanya
jeli mencari peluang bisnis, tapi juga mampu menciptakan Pasar.

Begitu pula, jika punya hobi. Misalnya melukis, bisa jadi pelukis, dan lukisan itu
bisa dijual digaleri. Bagi yang hobi senam aerobik atau body Inngunge, bisa berwirausaha
buka studio senam. Bahkan, peluang bisnis itu juga bisa diraih saat kita melakukan
perjalanan ke luar kota. lde bisnis bisa muncul setelah kita melihat bisnis di kota lain, dan
itu bisa dikembangkan di kota sendiri. Hanya saja, agar bisnis yang akan dijalankan tidak
sia-sia, ada baiknya pastikan dulu pasarnya.

Tapi, tentu, peluang bisnis itu hanya bisa diraih, jika kita jeli dan gigih. Ingat
pepatah yang mengatakan: “Tidak ada usaha, tidak ada hasil”. Oleh karena itu,
sebaiknya jangan ragu di dalam setiap meraih peluang bisnis yang ada di sekitar kita.
Soal besar kecilnya peluang jangan jadi masalah. Tangkap dulu peluang yang ada. Dan,
jangan khawatir, peluang bisnis yang berikutnya pasti akan mengikuti. Bisnis itu selalu
mengalir, seperti bola salju, dimulai dari yang kecil lalu menggumpal menjadi besar.
 

Kaya Ide, Miskin Keberanian

"Kita harus ada keberanian untuk jatuh - bangun".Purdi E. Chandra.

ideaAda sebuah pertanyaan menarik dari seorang peserta “Entrepreneur University” angkatan ketiga saat mengikuti kuliah perdana pekan lalu. “Saya begitu banyak sekali ide bisnis, tapi nyatanya tak ada satu pun ide bisnis itu terealisir. Akibabnya, saya hanya sekadar kaya ide, tapi bisnis tak ada?”, tanya peserta yang kebetulan ibu-rumah tangga itu.

Saya kira, pertanyaan atau kejadian seperti itu tak hanya dialami oleh ibu tadi, tapi juga cukup banyak dialami oleh kita semua, bahwa yang namanya ide bisnis itu adaada saja. Tapi, yah hanya sekadar ide bisnis, sementara bisnisnya nol atau tak terwujud sama sekali. Terkadang ide yang tidak kita realisir justru sudah dicoba lebih dulu oleh orang lain. Dalam konteks ini, saya berpendapat, sebenarnya untuk membuat bisnis, memang dibutuhkan ide. Hanya saja, karena kita hanya kaya ide, namun miskin keberanian untuk mencobanya, maka yang berkembang adalah idenya, sedang bisnisnya nol.

Menurut saya, miskinnya keberanian itu bermula ketika kita mendapat pendidikan di sekolah atau di bangku kuliah, yang kita dapat hanyalah teori semata. Jadi, kita terlalu banyak berteori, tapi miskin praktek. Akibatnya, ketika kita kaya ide, miskin keberanian. Artinya, kalau kita hanya menguasai teori, namun kalau tidak bisa dipraktekkan, maka ide bisnis sehebat apapun akan sulit jadi kenyataan. Yah, seperti halnya, kita belajar setir mobil. Kalau kita hanya tahu teorinya, tapi tak pernah mencoba atau mempraktekkannya, tentu tetap tidak bisa setir mobil.

Jadi, saya kira, persoalannya adalah terletak pada, bagaimana kita yang semula hanya kaya teori atau hanya sekadar bermain logika atau istilah lainnya hanya mengandalkan otak kiri, kemudian bisa berpikir atau bertindak dengan otak kanan, Saya yakin, jika kita mampu juga menggunakan otak kanan, maka seperti pada saat kita setir mobil. Serba otomatis, tidak lagi harus dipikir, semua sudah di bawah sadar kita.
Kalau pun, di saat kita praktek setir mobil atau mempraktekkan teori kita itu, terjadi berbagai kendala, seperti: di saat kita memasukkan mobil ke garasi, mobil kita sedikit rusak karena nyenggol pagar misalnya, saya kira nggak masalah. Begitu juga, ketika kita kecil belajar bersepeda, mengalami jatuh beberapa kali, itu sudah biasa. Tapi, akhirnya, bisa juga kita naik sepeda. Artinya, kita baru bisa naik sepeda setelah pernah mengalami jatuh beberapa kali.

Di bisnis, saya kira itu juga sama. Kita harus ada keberanian untuk jatuh dan bangun. Sebaliknya, kalau tidak ada keberanian seperti itu, bisnis sekecil apapun tak akan ada. Dan, kalau kita biarkan ide bisnis itu, akibatnya kita hanya kaya ide bisnis, tapi miskin duitnya. Saya yakin, engan keberanian itulah akan mendatangkan duit. Oleh karena itulah, menurut hemat saya, lebih baik kita berani mencoba dan gagal dari pada gagal mencoba. Anda berani mencoba?